Tampilkan postingan dengan label *) Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *) Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Agustus 2013

Utang Cimol Part 15

di 01.14 0 komentar
“Tentu saja. Aku adalah wanita yang kamu cintai, Sachy.”

                
Hari ini berjalan seperti biasanya meskipun matahari tidak secerah hari-hari kemarin, tapi semua aktifitas tampak berjalan dengan normal. Jalan-jalan raya tetaplah padat dan kemacetan selalu menjadi pelengkap, anak-anak sekolah dengan seragam mereka masing-masing tampak bergegas menuju sekolah mereka, para pedagang di pinggiran jalan sibuk menawari dagangannya kepada orang-orang yang berjalan di trotoar dan masih banyak manusia-manusia lainnya yang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
                Tapi tetap saja sekian dari sejuta manusia diluar sana yang sedang sibuk menjalani hari mereka, ada beberapa manusia yang justru tidak tahu harus melakukan apa. Mereka bingung karena sebenarnya mereka tidak memiliki pekerjaan. Inilah yang dinamakan ‘Pengangguran Sejati’ dan Sachy, termasuk di dalamnya.
                Sachy mematikan televisi yang sedang ditontonnya, baginya acara di Televisi sama sekali tidak ada yang menarik. Sachy menghembuskan nafas kesal, dia dalam kondisi yang teramat boring sekarang. Sachy berjalan gontai menuju dapurnya, dan mengambil satu cangkir yang berada di rak lemari dapurnya. 5 menit kemudian Sachy keluar dari dapurnya dan kembali ke tempat duduknya semula, tentu saja dengan secangkir kopi buatannya yang masih dengan asap yang mengepul.
                Sachy menyeruput kopinya, kemudian dia membuang pandangannya ke jendela besar yang berada di belakang sofa yang sedang ia duduki. Terlihat jelas keramaian kota yang terbentang di bawah apartemennya yang setinggi 25 meter ini. Sachy mengamati hilir mudik kendaraan yang tidak ada habis-habisnya itu dan baru ia sadari betapa kotornya udara di jalanan. Asap-asap tebal berterbangan kesana-kemari, polusi yang mengandung racun terpaksa dihirup oleh orang-orang yang berada di kendaraan yang tidak memiliki kaca sebagai temeng seperti angkot, becak, bis, bis tuyul, bajaj, dll.
                Sachy kembali menyeruput secangkir kopi yang masih ia pegang, kini pikirannya teralihkan. Tiba-tiba saja kata-kata gadis itu kembali terngiang.

                “Tentu saja. Aku adalah wanita yang kamu cintai, Sachy.”

                Masih lekat di benak Sachy bahkan seperti masih jelas di depan mata Sachy bagaimana ekspresi gadis itu, tatapannya, dan kesungguhannya saat mengucapkan kata itu. Kata itu bak mantra yang membuat Sachy seperti kehilangan kesadarannya bahkan Sachy seperti tidak menginjak bumi saking terkejutnya ia. Sebenarnya ada perasaan yang menggelitik Sachy dan membuatnya penasaran. Tapi Sachy sendiri tidak tahu seperti apa jelasnya perasaan itu.
                Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya. Langsung saja tubuh Sachy menerima rangsangan itu sebagai sebuah perintah, secara reflek Sachypun menaruh cangkirnya, lalu berdiri, beranjak mengambil jaketnya, HP, dan kunci mobil.
                Tidak beberapa lama kemudian Sachypun siap melesat meninggalkan apartemennya.
                                                                                              
                                                                               ***
               
Mata Nala membulat melihat pemandangan yang sedang ada di depannya. Sebuah mobil sport putih bermerek Pagero terparkir dengan manis di depannya tetapi bukan mobil itu yang membuat Nala terkejut melainkan pengemudinya. Pengemudi yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam, dengan topi di atas kepalanya dan sebuah kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Pengemudi itu sedang berdiri di depan pintu mobilnya sembari menyilakan ke dua tangannya, tentu saja tidak ketinggalan : gaya sok cool.
           Kening Nala berkerut 3 lapis. Ia memandangi orang itu dan coba memastikan apakah ia benar-benar tidak salah lihat. Setelah dirasa bahwa memang ini kenyataan, tiba-tiba saja Nala tertawa. Tawanya itu pecah tanpa bisa ia kendalikan.
         “Apakah ada yang lucu?” Tanya pengemudi itu yang tidak lain adalah Sachy. Sachy benar-benar heran dengan tingkah Nala yang tertawa seolah-olah ia tertawa karena melihat badut Ancol.
     “Adaa!! Hahaha! Adaa!” Jawab Nala masih dengan tawanya, ia memegang perutnya yang mulai kesakitan karena tawanya di atas normal.
        Melihat Nala yang tidak berhenti tertawa, Sachy pun akhirnya diam. Dia merasa dirinya sudah dihinakan oleh Nala secara tidak langsung.
           Nala yang sadar bahwa Sachy mulai sebal, langsung berusaha menghentikan tawanya.
          “Kamu ngapain ada disini?” Tanya Nala setelah ia berusaha mati-matian menghentikan tawanya, tapi meskipun begitu Nala tetap saja keceplosan tertawa.
           “Ada sesuatu yang membuatku penasaran.” Jawab Sachy berusaha tidak mempedulikan tawa Nala.
            Nala memiringkan kepalanya, “Apa?” Tanyanya lagi.
             Sachy menatap Nala lurus, “Kalau benar aku mencintaimu, mengapa aku bisa melupakanmu?” Ujar Sachy dengan ekspresi datar. Nala langsung tersontak mendengarnya, tawanya langsung hilang seketika.
         “Hm..itu...itu...” Nala mendadak tidak bisa berkata. Dia kebingungan mencari jawabannya. Sachy yang melihat kebingungan di wajah Nala, menaruh tangannya di saku celananya sembari menghembuskan nafas.
             Nala melihat ada senyum sinis dari wajah Sachy, tapi ia juga tidak tahu harus melakukan apa.
            “Semua ini salahku.” Ucap Nala akhirnya. Nala menundukkan wajahnya, tiba-tiba saja ada air mata jatuh dari kelopak matanya. “Benar! Ini memang salahku. Jika saja waktu itu aku tidak melepaskanmu dan menerimamu..mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Lanjut Nala lagi masih menunduk.
          Sachy yang sadar suasananya telah berubah, merasa tidak nyaman. “Sudahlah..” Tanpa Sachy sadari, ia merasa tidak suka melihat gadis itu menangis di depannya.
                                                                                               

                                                                                   ***
                Keesokan harinya..
                Sachy datang lagi ke tempat Nala. Masih dengan mobil yang sama, pakaian yang sama, dan juga gaya sok coolnya (berdiri di depan pintu mobil sembari menyilakan tangannya).
                Kali ini Nala melihat Sachy dengan perasaan sedikit takut, tidak ada sama sekali perasaan dirinya ingin tertawa. “Apa lagi yang membuatmu penasaran?” Tanya Nala sedikit gugup.
             Sachy yang melihat ketakutan yang jelas di mata Nala merasa sedikit bersalah atas kejadian kemarin. Ia berfikir mungkin tak seharusnya ia bertanya seperti itu. Sachy menurunkan tangannya dan menjawab, “Tidak ada.”
                Nala menatap tidak percaya, dan dengan tanpa suara Nala bertanya, “Lalu?”
                “Aku kesini ingin meminta bantuan padamu.” Ucap Sachy seolah tahu pertanyaan Nala barusan.
            “Bantuan?” Nala mengulang kembali ucapan Sachy. Nala tidak percaya bahwa Sachy meminta bantuan kepadanya.
                Sachy yang menangkap ketidak percayaan dari raut wajah Nala hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “Sebenarnya aku sedang sangaaattt bosan.” Ujar Sachy memulai memberitahukan alasannya. Sachy mengatakannya dengan pelan-pelan, Nala pun hanya bisa menunggu dengan diam.
               “Aku..” Sachy memijat hidungnya tanpa sebab, sebenarnya dia sedikit malu untuk mengatakannya. “Aku..ingin pergi ke suatu tempat. Apa kau tahu tempat yang bagus untuk ku datangi?” Ujar Sachy akhirnya memberitahukan alasannya yang sebenarnya. Sebenarnya Sachy tidak mempunyai pilihan lain selain Nala, alasanya karena yang dekat dengan ia adalah Tere dan Nala meskipun sebenarnya banyak orang yang ia kenal tapi dia merasa tidak bisa meminta bantuan kepada mereka, dan  lagian ingatannya belum kembali pulih dia takut dia malah merepotkan orang.
           Sachy selesai dengan ucapannya tapi Nala malah tampak mematung di tempatnya. Sachy sampai bingung melihat ekspresi Nala, dia takut dia membuat kesalahan lagi. “Nala, are you ok?” Tanya Sachy dengan kawatir.
             Sedetik kemudian Nala langsung tersadar. Dia menatap Sachy dengan tatapan berkaca-kaca. Susah baginya untuk mengeluarkan kata-kata jadi yang bisa ia lakukan adalah..mengangguk. Ya! Mengangguk itu tandanya mau.
          “Iya.. iya..ngangguknya sekali aja cukup kok.” Ujar Sachy lagi karena melihat Nala yang terus-terusan mengangguk. Sachy tidak tahu bahwa itu tandanya Nala mau banget dan lebih dari itu..Nala sangat bahagia.
                                                                                               
                                                                               ***

                Tujuan pertama Nala adalah Dunia Fantasy. Sebenarnya Nala sangat berharap semoga kencan tidak langsungnya ini bisa memberikan sedikit ingatan untuk Sachy. Tapi sayangnya sampai mereka mau pulang pun Sachy tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengingat sesuatu.
              Nala pun memutarkan kembali otaknya, tiba-tiba Nala punya ide. Meskipun idenya ini menurutnya begitu nekat dan ekstrem baginya tapi apapun dia lakukan demi Sachy.
               “Sachy.. ayo kita naik tornado. Oya, abis itu kita naik Halilintar, Histeria, Kincir-kincir dan Kora-Kora” Ujar Nala mengajak Sachy.
              “Apa? Yakin kamu kuat?” Tanya Sachy tidak yakin bahwa Nala sanggup melakukan itu karena naik Bianglala aja Nala udah ketakutan. Sachy bisa lihat wajahnya pucat pasi saat BiangLala berada di paling atas.
           Di tanya seperti itu Nala akui diapun tidak yakin bahwa dia akan kuat, tapi lagi-lagi cinta itu memberikannya semangat, “Insya Allah.”
                                                                                               

                                                                                ***
        Dan inilah hasilnya.. “WOEK...WOEK...” Nala tidak bisa membendung dirinya lagi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
                “Nala..are you ok? ” Ujar Sachy kawatir. Sachy tidak tahu bahwa inilah yang Nala inginkan. Nala masih ingat bagaimana paniknya Sachy dulu bahkan Sachy sampai menggendong Nala. Nala berharap Sachy mengingat kenangan itu..sedikit saja.
              “Nala...kita ke dokter aja, ok?” Ujar Sachy lagi. Nala langsung menggeleng. Bukan pergi ke dokter tujuannya..
              “Sachy..apa kamu gak ingat sesuatu?” Tanya Nala dengan nada nya yang lemah.
    Sachy tampak terdiam. Wajahnya langsung berubah serius, sepertinya Sachy sedang memikirkan sesuatu.
Sambil menunggu..Nala berdoa semoga Sachy mengingatnya..
         “No! Aku tidak ingat apapun.” Ujar Sachy akhirnya. Nala langsung lemas seketika. Usahanya benar-benar tidak membuahkan hasil.
                “Kita pulang aja, ok? Ayuh aku bantu kamu berdiri..” Dan Sachy pun akhirnya membawa Nala pulang sambil membantunya berjalan.
                                                                                              
                                                                                ***
                “Nala serius kamu gak apa-apa?” Tanya Sachy sekali lagi saat mereka sudah sampai di depan rumah Nala.
                “Aku gak apa-apa.” Ujar Nala dengan kondisi yang sangat lemah. Nala menggigit bibirnya. Sebenarnya bukan mual ini yang membuatnya lemah tapi usahanya yang ingin membuat Sachy kembali mengingat semua kenangan indah mereka berdua ternyata tidak membuahkan hasil itulah yang membuat semangatnya hilang.
                “Thanks yah..udah anterin aku. Sampai jumpa lagi. Bye.” Dan Nala berpamitan sebelum ia membuka pintu mobil. Sachy memandangi Nala sekilas sebelum akhirnya Sachy melambaikan tangannya dan kembali menjalankan mobilnya.
                Tapi tiba-tiba saja...
                Mobil Sachy berjalan mundur. Nala yang saat itu hampir masuk ke dalam pagar rumahnya tiba-tiba ada yang menarik tangannya kemudian dengan sekedipan mata sebuah ciuman mendarat di keningnya.
                Susah untuk Nala mengerti kejadian yang baru saja ia alami karena tiba-tiba saja otaknya konslet. Nala mematung di tempatnya.
                “Maaf Nala.. tiba-tiba saja aku ingin melakukan itu. Maaf yah?” Sachy mengucapkan kata maaf pada Nala karena dia telah berbuat tidak sopan. Sachy tidak tahu kenapa dia tiba-tiba melakukan itu, seperti gerak reflek menurutnya.
                Nala memegang jidatnya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini tidaklah mimpi.
                “Nala..kamu marah yah? Im sorry..” Ujar Sachy lagi dengan perasaan bersalah. Bukannya menjawab Nala justru malah memeluk Sachy. Membuat cowok itu terkejut tidak berkedip.
                                                                                             
                                                                            ***

                

Utang Cimol Part 14

di 00.27 0 komentar

               



 Sachy mengamati dua orang yang ada di depannya secara bergantian. Ekspresi mereka berbeda, Tere yang tidak lain adalah manajernya berekspresi seperti orang yang tiba-tiba saja seperti membatu, sedangkan perempuan disampingnya menutup mulutnya dan matanya melotot seolah akan melompat keluar tapi meskipun begitu Sachy tahu ekspresi mereka menunjukkan ekspresi orang yang sedang terkejut, dan itu membuat Sachy bertanya heran,

              “Ada apa, paman?” Sachy bingung mengapa mereka berdua ketika mendengar nama Minho seperti orang melihat hantu, “Apa sesuatu terjadi dengan Minho?” Tanya Sachy lagi dengan kening berkerut.
                Tiba-tiba Tere langsung tersadar, dan ia segera berusaha mengembalikan keadaan dirinya kembali normal, “Tidak ada apa-apa Sachy, Minho baik-baik saja.”
             “Lalu, dimana ia? Mengapa ia tidak ada disini?” Tanya Sachy sembari mengedarkan pandangannya keselilingnya berharap tiba-tiba Minho muncul, namun tetap saja Minho tidak muncul karena memang Minho tidak ada.
          “Dia ada di Korea. Apa kau lupa? Minho kan seorang artis. Tentu saja dia sangat sibuk.” Jawab Tere sekenanya dan Sachy percaya begitu saja. Dia tampak mengangguk mengerti, lalu dia kembali terpejam. Tere bernafas lega karena Sachy tidak bertanya-tanya lagi. Namun tiba-tiba saja Sachy terbangun lagi.
        “Apa ada masalah dengannya?” Sachy menunjuk Nala yang rupanya belum kembali normal. Tere segera menyikut lengan Nala agar membuat gadis itu sadar.
           “Ah! Aku lupa..bukankah aku bisa bahasa Indonesia?” Ujar Sachy pada dirinya sendiri, lalu menoleh lagi ke arah Nala, “Apakah kau baik-baik saja? Karena dari ekspresimu tadi, ku kira kamu sedang terkena serangan jantung.” Ucap Sachy pada Nala. Nala yang sudah sadar hanya tersenyum kaku, dalam hati ia menjawab, “Memang aku terkena serangan jantung Sachy dan kau tahu bahkan aku kira jantungku akan segera melompat keluar saking terkejutnya aku.”
                                                                                                



                                                                                ***

               “Paman! Bagaimana ini ?! Apa yang harus kita lakukan? Sachy tidak mengingatku yang dia ingat hanyalah nama mantannya dan...OH! MY GOD!” Nala memegang kepalanya yang mulai berdenyut-denyut. Tidak bisa ia bayangkan, Sachy yang sudah sembuh dari kelainannya tiba-tiba kembali seperti dulu lagi. Bagaimana jika Sachy kembali ke jalan yang sesat dengan mencari orang yang bernama Minho itu? Nala tidak sanggup membayangkannya apalagi jika itu benar-benar terjadi.


              “Itu tidak akan terjadi.” Ujar Tere mencoba meyakinkannya kepada Nala dan terlebih pada dirinya sendiri. Tere memandang wajah Nala yang terlihat sangat mengenaskan, apa yang diinginkan Nala sama juga dengan apa yang dia inginkan. “Selama kita menahan Sachy untuk tidak kembali ke Korea, maka semua itu tidak akan terjadi. Kita harus bisa menahan Sachy disini sampai ingatan Sachy kembali pulih, dia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu selama dia tidak bertemu Minho.” Mendengar ucapan Tere, Nala seperti mendapat suntikan harapan. Ia mengangguk setuju.

               “Dan satu lagi..” Kali ini Tere memegang pundak Nala dan dia menatap Nala dengan serius, “Kau harus berusaha membuat Sachy jatuh cinta lagi padamu Nala. Aku yakin, itu akan membuat ingatannya lebih cepat kembali”
                Nala mengurungkan senyumnya, “Apakah aku bisa?” Tanyanya tidak yakin. Nala ragu bahwa ia sanggup melakukan itu.
                “Kau pasti bisa Nala. Selama cintamu itu tulus pada Sachy, aku yakin Sachy akan merasakannya meskipun otaknya saat ini tidak mengingatmu tapi cintanya tidak akan pernah lupa padamu.” Ujar Tere sedikit puitis. Nala sedikit terpengaruh dengan ucapan Tere dan entah datang darimana tiba-tiba munculah keberanian Nala meskipun itu hanya sedikit, Nala berfikir tidak ada salahnya jika ia mencoba terlebih dahulu.

                                                                                               



                                                                               ***

               


Sachy menatap Nala dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Entah apa yang sebenarnya Sachy pikirkan, hanya saja ia ingin memastikan apakah benar ia pernah mengenal gadis ini. Gadis yang dipandangin itu tampak salah tingkah sekaligus bingung, sepertinya tidak ada yang salah dalam ucapan Tere tadi yang mengatakan, “Mulai saat ini, Nala lah yang akan menjagamu, merawat, dan menemanimu sampai kondisimu pulih. Banyak hal yang harus aku kerjakan, dan aku harap kamu bisa mengerti.” Itulah kutipan perkataan yang tadi Tere sampaikan sebelum akhirnya Tere pergi meninggalkan Nala dan Sachy dengan kebingungannya.

                “Apa..ada yang salah denganku?” Tanya Nala membuka percakapan. Hampir 5 menit berlalu, dan Sachy hanya diam sembari menatapnya.. bukan! lebih tepatnya mengamatinya. Itu tentu saja membuat Nala risih dan tidak tahan.
                “Aku penasaran..” Jawab Sachy sambil memiringkan wajahnya. Dia menaruh tangannya dibawah dagunya sembari berfikir, “Apakah kita dulu benar-benar saling mengenal?” Raut wajah Sachy mengatakan bahwa ia sama sekali tidak percaya dirinya kenal atau bahkan dekat dengan gadis bernama Nala ini karena selama ini dia tertutup dengan seorang wanita.
                Nala yang menangkap konotasi negatif dari ucapan Sachy barusan, menjawab, “Apakah kau sulit percaya bahwa kau mengenal aku? Apakah aku gadis yang tidak pantas untuk kau kenal ?” Dari nada Nala, terlihat bahwa ia sakit hati atas ucapan Sachy barusan.
                “Bukan itu maksudku...” Sachy tampak merasa bersalah, dia menyusun kata-kata demi memperbaiki ucapannya tadi, “Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa berpikiran seperti itu karena selama ini aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun, teman-temanku semua laki-laki dan aku..” Hampir saja Sachy mengatakan bahwa ia memiliki seorang pacar dari jenis yang sama, Sachy segera mengganti kata-katanya, namun sekilas Sachy melihat wajah Nala berubah menjadi pias, terlihat sekali air mata mengenang di matanya, “Sudahlah! Intinya kau tahu sendiri bagaimana keadaanku sekarang. Oke..maaf jika ucapanku tadi menyinggung perasaanmu, tapi kau juga tidak bisa menyalahkanku. Aku hilang ingatan, dan aku sama sekali tidak bisa mengingatmu. Jadi..”
                

“Aku mengerti. Aku akan menunggumu.” Ujar Nala memotong ucapan Sachy. Sachy sedikit terperangah mendengar ucapan Nala barusan. “Tapi satu hal aku minta padamu,” Pinta Nala sungguh-sungguh kepada Sachy. Sachy hanya diam, tanpa menjawab.
                “Bisakah kau mengizinkanku untuk membuktikanya padamu? Bahwa aku adalah gadis yang pantas kau kenal. Meskipun aku tidak bisa mengembalikan ingatanmu tapi setidaknya aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu karena dengan cara itulah rasa bersalahku sedikit terkurangi.” Ujar Nala dengan suara yang nyaris seperti orang menderita. Tapi Nala benar-benar mengatakan hal itu tulus dari hatinya dan entah mengapa Sachy merasa dia bisa mempercayai gadis itu.
                “Hmm...” Sachy tidak langsung menjawabnya, dia tampak seperti orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu, “Baiklah. Itu terserah padamu.” Ujar Sachy dengan nada cuek. Nala tersenyum bahagia, sekilas Sachy melihat senyum itu dan tanpa ia sadari dia ikut tersenyum.




                                                                            ***
               
 2  Minggu kemudian...
                Nala meregangkan otot-otot tangannya, rasanya sendi-sendi di tangannya akan terlepas saking capeknya ia karena seharian ini dia sibuk dengan menulis. Banyak pelajaran yang ketinggalan karena ia sibuk mengurus Sachy. Namun hari ini ia tahu Sachy sudah pulang dari rumah sakit.
                “Hftt...” Nala menyenderkan badannya ke kursi. Ada helaan nafas berat yang barusan ia hembuskan. Sepertinya rasa lelah di tangannya itu belum seberapa dibandingkan rasa lelah hatinya. Sudah 2 minggu berjalan, namun tidak ada perkembangan yang menunjukkan kabar baik dari Sachy. Sedikitpun tidak ada tanda bahwa dia bisa mengingat Nala seperti dulu dan itu membuat Nala sedih. Hatinya seperti tercabik-cabik. Tapi Nala tidak akan menyerah, karena ia tahu keberhasilannya terletak pada kesabarannya. Dia yakin suatu saat Sachy akan kembali seperti dulu.
                ”Trttt...trtt...” Tiba-tiba terdengar suara getaran dari Hp Nala. Nala segera merogoh sakunya dan mengambil Hpnya. Tertera nama “Paman Tere” di layar Hpnya. Langsung saja, Nala menekan tombol penerima.
                “Iya paman?” Nala menjawab panggilannya. Di ujung sana, Tere langsung mengatakan tujuannya.
                “Ada apa paman..? Apa? Sekarang paman? Baik.. baik.. aku akan segera kesana? Oke!” Panggilan dimatikan. Dan Nala segera merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia pun segera melesat keluar kelas dengan kecepatan diluar kendalinya. Rasa lelah di tangannya tadi karena menulis menguap entah kemana. Apa yang sedang terjadi padanya langsung menghilang seketika itu juga saat Tere menyuruhnya ke apartemen Sachy sekarang juga. Tere mengatakan kemungkinan ingatan Sachy sedikit kembali dan Sachy menyuruh Nala menemuinya sekarang juga. Hal itu tentu saja membuat Nala sontak bahagia. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia saat ini selain Sachy yang sudah kembali ingatannya. Dia berharap hari yang dinantikan itu segera tiba.




                                                                                ***




          Nala kini sudah berada di depan pintu apartemen Sachy. Sebelum ia memencet bel, Nala mencoba merapikan dulu rambutnya yang ia yakin sudah berantakan seperti terkena angin pitung beliung. Setelah dirasa rapi, Nala pun menekan tombol bel. Nala merasa jantungnya berdegup kencang sembari menunggu pintu itu terbuka. Dia berharap pintu itu tidak cepat terbuka, namun dia juga tidak mau menunggu terlalu lama di depan pintu.
                Namun rupanya tidak ada 10 detik Nala memencet belnya, pintu itu terbuka. Nala terkejut karena rupanya harapannya tidak terkabulkan. Dan Nala lebih terkejut, saat Sachy yang membuka pintu itu langsung menarik tangannya masuk ke dalam apartemennya, tanpa menunggu basa-basi meskipun itu sekedar ucapan salam, Sachy bukan seperti membawa Nala melainkan seperti menyeretnya. Nala yang tidak siap dengan tindakan Sachy ini, hanya bisa menatap penuh kebingungan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, yang dia lakukan hanya melihat tangannya yang kini sedang digenggam oleh Sachy.
                Di ruang tamu, Nala melihat ada Tere. Langsung saja Nala meminta bantuan Tere dengan tanpa suara, namun rupanya Tere hanya pasrah melihat apa yang sedang dialami oleh Nala. Sepertinya Tere hanya bisa membantunya lewat doa.
                Sachy terus menyeret Nala tanpa sedikitpun membiarkan gadis itu tahu ataupun sekedar bertanya mau dibawa kemana ia. Baru setelah sampai di sebuah pintu, Sachy menghentikan langkahnya dan langsung melepas genggamannya. Nala hanya bisa memegang tangannya yang mulai kemerahan karena genggaman Sachy yang lumayan keras. Ingin sekali Nala bertanya, namun melihat ekspresi Sachy saat ini jangankan untuk bertanya, untuk mengeluarkan suara pun Nala tidak mempunyai keberanian.
                Sachy sempat memandang Nala dengan pandangan yang belum pernah Nala lihat sebelumnya. Nala sampai bergidik dibuatnya. Tidak berapa lama kemudian Sachy membuka pintu yang ada di depannya. Masih dengan tatapan yang tidak terlepas dari Nala, Sachy menyuruh Nala melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Setengah takut, Nala pun melihat ke dalam ruangan itu. Dan amat terkejutnya Nala melihat apa yang ada di dalam sana. Bahkan Nala tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
                Ini adalah sebuah kamar. Bukan kamar yang aneh, melainkan kamar yang begitu bagus, rapi, dan bersih. Tapi ada sesuatu yang membuat Nala benar-benar terkejut, yaitu sebuah pigura besar yang terpasang di dinding kamar itu. Pigura itu berisi...fotonya!! Ya! Nala yakin dia tidak salah lihat meskipun dalam hatinya dia merasa tidak percaya bahwa itu adalah fotonya. Mulut Nala sontan terbuka lebar, dan Nala reflek mendekati pigura itu.
                “Itu belum seberapa, masih ada ini, ini dan ini.” Tiba-tiba Sachy membuka lacinya, menunjukkan satu persatu foto Nala yang tersimpan di dalamnya.
                “Dan..OMO! Aku tidak percaya ini juga sama.” Sachy menunjukkan Hpnya dan IPADnya dan rupanya di layarnya terpasang jelas wallpapernya adalah foto Nala. Nala menutup mulutnya melihat semua itu, dia benar-benar terkejut melihatnya.
                Sachy tidak merasa menikmati ekspresi keterkejutan Nala, sekarang dia hanya ingin menanyakan satu hal kepada Nala, “Jadi..katakan padaku siapa kamu sebenarnya ?”
                Kini Nala menatap Sachy penuh haru, dia tidak menyangka Sachy begitu menyukainya selama ini. Nala tersenyum penuh arti, “Tentu saja. Aku adalah wanita yang kamu cintai, Sachy.”

                                                                                               



                                                                             ***

                

Jumat, 16 Agustus 2013

Utang Cimol Part 13

di 18.05 0 komentar
                

Ruangan itu tampak begitu asing. Hanya ada gambaran warna putih dan aroma yang terasa menusuk hidung. Udara dingin merayap masuk melalui dinding-dinding tebal yang sunyi. Tidak ada suara kehidupan, hanyalah bunyi mesin pendetak jantung yang saling bersahutan.               
  Seseorang perlahan membuka matanya. Masih dapat ia rasakan denyutan di kepalanya yang membuatnya sedikit merasakan sakit. Belum separuh matanya terbuka, ia dapat melihat sesosok bayangan hitam berada didepannya. Sosok bayangan itu semakin lama semakin jelas, meskipun butuh waktu untuk menghilangkan samar-samar bentuk wajahnya, tapi orang itu yakin bahwa dia adalah manusia “Aku belum mati.” Kata-kata itu terucap lewat hatinya. Entah bagaimana kata-kata itu muncul, yang jelas ia merasakan bahwa dirinya seperti bukan berada di dunia yang jelas. Dia seperti berada di antara mimpi atau nyata dan dia bingung apakah ia masih hidup atau sudah mati. Namun semua itu sudah terjawab sekarang.               
 Orang itu kembali melihat sosok manusia yang sedang berdiri di depannya dengan wajah yang begitu sangat sedih. Air mata telah membanjiri seluruh pipinya, dan dia menutup mulutnya seolah ingin menahan teriakannya atau terkejut yang amat sangat sehingga membuatnya nyaris tidak percaya.             
   “Ka-u..su-su-dah sadar?” Tanya orang yang sedang menangis itu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Bahagia, kaget, terharu, lega mencampur jadi satu dan itu membuatnya susah untuk bicara.                
Orang itu terus menerus menjatuhkan air mata, penyesalannya yang amat besar membuat dirinya menderita selama ini. Setelah menyadari semua perasaannya, orang itu kini hanya ingin memperbaiki semuanya dan itu harus diawali bersama orang yang ada di depannya ini, orang yang baru saja membuka matanya, seseorang yang amat sangat dicintainya, tapi...               
 “Kau ...siapa?” Jawab orang yang baru membuka mata itu dengan sangat bingung.                                                                                                                         ***



                “Keadaan Sachy saat ini bisa dikatakan cukup baik, kita bisa berharap Sachy cepat pulih. Kendalanya Cuma satu, yaitu Sachy tidak bisa mengingat kejadian-kejadian yang baru saja terjadi padanya. Entah kejadian setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, untuk memastikannya kita sama-sama menunggu perkembangan Sachy selanjutnya. Mungkin ini disebabkan karena stress yang dia alami sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi mungkin ini bersifat sementara, jadi anda tenang saja.” Ucap dokter menjelaskan tentang kondisi Sachy sekarang pasca ia sadar dari komanya.              
  “Lalu..kapan ingatannya kembali pulih, dok?” Tanya Nala dengan penuh kecemasan. Dia benar-benar Syok saat Sachy tidak mengenalinya, dan itu membuatnya takut setengah mati. Tere mendekati Nala, dan dia memegang pundak Nala, mencoba menenangkan Nala yang sedang kalut.               
 “Kalau itu saya tidak bisa memastikannya. Kita tunggu saja kondisi Sachy selanjutnya.” Jawab dokter kemudian segera berlalu.              
  Nala langsung lemas seketika. Tiba-tiba perasaan menyesal itu datang lagi, seakan jatuh dari atas, menimpa tubuhnya, dan membuatnya hancur seketika. Nala tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, seandaikan waktu bisa diulang kembali...            
    “Sabar Nala..mungkin ini cobaan dari Sang Kuasa untuk cinta kalian berdua. Kamu harus kuat dan jangan pernah menyerah. Bukankah cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan? Tegarkan hatimu ya?” Ujar Tere memberi nasihat, Nala tersenyum dan mengangguk. Meskipun ini berat, tapi ia bertekad akan melalui ini semua.               
 “Terimakasih, paman.” Ucap Nala dengan tulus. Tere tersenyum, dan mengusap kepala Nala sejenak. Lalu dia menepuk lengan Nala dan mengajaknya, “Ayuh kita lihat Sachy.”                                                                                             



                                                                           ***              
   “Sekarang aku ada dimana Paman?” Tanya Sachy kepada Tere dengan menggunakan bahasa Korea. Nala yang tidak mengerti Bahasa Korea  hanya bisa diam.               
 “Kita di Indonesia Sachy, dan sudah hampir 3 tahun kita disini.” Jawab Tere sembari sekilas menoleh ke arah Nala dan seolah berkata bahwa ia akan menceritakan semua apa yang tadi Sachy katakan.                “Lalu..” Sachy sekilas melirik ke arah Nala, “Siapa dia?”               
 Tere tampak bingung menjelaskan kepada Sachy, karena dia sendiripun tidak tahu status hubungan mereka berdua. Nala yang merasa dirinya sedang dibicarakan, menoleh ke arah Tere.                
“Dia..dia...” Tere tampak bingung mengatakannya, jika dia mengatakan bahwa Nala temannya itu tidak benar karena dia tahu perasaan mereka berdua lebih dari sekedar teman, namun jika Tere mengatakan bahwa Nala adalah pacarnya itu juga sama ajah bohong karena mereka belum resmi berpacaran.                “Apakah dia orang yang dekat denganku? Karena aku melihatnya menangis saat pertama kali aku membuka mataku.” Tebak Sachy sambil menunjuk Nala. Nala yang tahu dirinya ditunjuk, langsung menoleh ke arah Tere. Dia benar-benar penasaran apa yang dikatakan Sachy barusan.                
Tere yang benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, langsung mengangguk mendengar tebakan Sachy yang bisa dikatakan benar.            
    Sachypun mengangguk mengerti. Namun dia tidak membahas masalah itu lagi. Tiba-tiba matanya menerawang, ada sesuatu yang ia ingat. Tapi sebelumnya dia bertanya lagi pada Tere,               
  “Kenapa aku bisa ada disini?”               
 “Kau kecelakaan Sachy.” Jawab Tere singkat. Sachy menggeleng pelan..              
  “Bukan! Maksudku kenapa aku bisa ada di Indonesia? Dan kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian sebelum aku kecelakaan? Apa yang terjadi denganku, paman?” Tanya Sachy lagi dengan kebingungan yang amat jelas, setiap dia ingin mengingatnya sendiri tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit dan itu membuatnya menyerah dan jalan pintasnya Tere harus menceritakan semuanya padanya.              
  “Kau mengalami amnesia Sachy, tapi tenang saja dokter mengatakan ingatanmu segera pulih. Lebih baik kau istirahat saja, kondisimu masih sangat lemah, bukan? Jika keadaanmu sudah lebih baik, pasti akan aku ceritakan semuanya. Oke?” Ujar Tere menyuruh Sachy untuk beristirahat, dan Sachy pun mengangguk setuju.    Terepun mengajak Nala untuk keluar karena Sachy akan beristirahat, namun saat mereka berdua baru saja berbalik, tiba-tiba dari arah belakang Sachy berkata lagi.. “Tunggu Paman,”              
  Tere dan Nala langsung menghentikan langkah mereka dan spontan berbalik lagi ke arah Sachy.                “Dimana Park Minho, kenapa aku tidak melihatnya?” Tanya Sachy penasaran, dia baru menyadari bahwa ia merasa ada sesuatu yang hilang dan tiba-tiba saja terlintas di benaknya bahwa itu adalah Minho.                Tere yang mendengar pertanyaan Sachy langsung mematung seketika. Tidak menyangka bahwa Sachy akan mengingat nama itu lagi bahkan menyebutnya. Tahu bahwa Tere sedang terkejut dengan pertanyaan Sachy barusan, Nala menyikut pelan lengan Tere dan bertanya, “Siapa Park Minho?”                
“Dia...” Tere menjawabnya dengan gugup, “Pacar Sachy di Korea dulu.”Mendengar jawaban Tere, tiba-tiba saja Nala seperti dikejutkan oleh sengatan listrik 1000 Volt. Memang Nala tidak bisa mengerti bahasa Korea, tapi dia tidak jarang melihat drama Korea, dan nama Park Minho setahu Nala..bukankah itu nama laki-laki?Dan ketakutan yang amat besar menerkam Nala, Nala menoleh ke arah Tere, “Maksudnya pacar Sachy...?” Nala sengaja menggantungkan kalimatnya karena ia sendiripun takut untuk melanjutkannya.                
“Ya!” Dengan amat menyesal, Tere mengangguk lemas. Nala menutup mulutnya yang tiba-tiba terbuka lebar. Rasanya dunia ini menjatuhi dirinya begitu saja, Nala yang belum siap seakan mau ambruk seketika.                                                                               


                                                                                       

                                                                                 ***





Selasa, 04 Juni 2013

Lover Chocholate Caffe Part 3

di 01.51 0 komentar


Beberapa hari setelah kelulusan...
"Adis..aku di terima di California University" Dema memulai percakapannya dengan memberitahukan sebuah kabar, mereka berdua sedang duduk bersama di sebuah taman Kota sambil menikmati waktu sore. Saat mengatakan itu wajah Dema terlihat sangat sedih.
"Benarkah?" Mata Adis langsung membulat mendengar berita itu, "Itu bagus sekali! Itu sebuah kabar yang menggembirakan, aku ikut senang mendengarnya!" Berbanding terbalik dengan Dema, wajah Adis benar-benar bahagia. Lalu Adis mengulurkan tangannya, mengajak Dema untuk bersalaman, "Selamat yah?" Ucap Adis dengan tulus. Dema membalasnya dengan ekspresi yang biasa. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia gembira mendapat kabar bahwa ia diterima di salah satu Universitas terbaik di Amerika itu.
Adis segera sadar bahwa Dema tampak tidak bahagia. Dengan kening berkerut, Adis mencoba bertanya tentang apa yang Dema rasakan saat ini. Bukannya menjawab, Dema justru memeluk Adis dengan tiba-tiba.
"Aku kira kita berdua bisa bersama-sama lagi, tapi ternyata..aku harus menuruti perintah Ayahku. Kau tahu?! Aku takut ketika aku disana terjadi hal buruk menimpaku karena tidak ada kamu di sisiku." Ujar Dema yang terdengar seperti menahan tangisnya. Adis tampak tertegun mendengarnya. Memang Adis dan Dema sangat berbeda jauh mengenai kepintaran dalam hal akademik, Dema termasuk anak yang sangat jenius, dia adalah murid dari kelas akselerasi. Dema selalu menduduki peringkat 3 besar di kelasnya sedangkan Adis, hanya 10 besar di kelas biasa saja tidak pernah.
Adis berusaha menghibur Dema dan menyemangatinya. "Kamu tidak boleh berfikiran seperti itu. Meskipun kita jauh tapi kita kan masih bisa berhubungan. Jangan jadikan aku penghalang dalam meraih impian terbesarmu. Lakukanlah yang terbaik untukku, oke?" Adis mengucapkan itu sungguh-sungguh dari hatinya.
"Tapi..kita jadi tidak bisa bertemu?" Dema masih memurungkan wajahnya. Adis melepaskan pelukan Dema, dia memperlihatkan wajah kesal seolah dia marah gara-gara ucapan Dema barusan.
"Kita hanya berpisah selama beberapa tahun, apa mungkin kamu mau melepaskan kesempatan emas ini hanya karena takut tidak bisa melihatku selama beberapa tahun saja?" Ujar Adis kesal. Dema hanya diam, dia tidak berani menjawab lagi.
"Belajarlah dengan sungguh-sungguh disana, aku akan selalu mendukungmu disini. Meskipun kita jauh, aku janji akan selalu menemanimu kapan saja, begitu juga denganmu, kau juga akan tetap menemaniku kapan saja." Adis mengulurkan jari kelingkingnya, berharap perjanjian ini bisa disepakati bersama dan sebagai bukti resmi. Meskipun masih dengan perasaan enggan, Dema pun akhirnya mengulurkan jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking Adis. Sekarang perjanjian mereka telah resmi, mereka berduapun tersenyum bersama.
***
"APA?" Adis hampir saja menjatuhkan cangkir kosong bekas coklat panasnya tadi dengan sikutnya yang tiba-tiba melemas dan terjatuh begitu saja di atas meja.
Adis seperti sedang tersambar petir sekarang, dia benar-benar syock mendengar kabar dari Joo barusan. Dengan bibir yang bergetar, Adis mencoba bertanya ulang, "Apa kamu bilang? Dema sakit?" Berharap dia tidak pernah mendengarnya atau dia salah dengar, tapi itu tidak terjadi karena Joo menjawab dengan anggukan. Wajah Joo pun kini tampak murung, Joo seperti seseorang yang kehabisan tenaga.
"Sakit apa? Lalu..." Mata Adis mulai berkaca-kaca, "Kenapa dia tidak menceritakannya padaku?" Adis pun seperti kehilangan semua tenaganya, terlalu banyak keterkejutan yang ia alami hari ini. Entahlah, apakah ia masih bisa bertahan untuk tidak pingsan karena jantungnya seperti akan copot sekarang.
"Dia... mengalami kecelakaan di Las Vegas." Ucap Joo mengatakan yang sebenarnya kepada Adis. "Tangannya patah." Lanjut Joo lagi dengan wajah yang tertunduk.
"Benarkah? Lalu...kenapa dia tidak memberitahukannya padaku?" Tanya Adis lagi yang sudah menjatuhkan air matanya.
"Dia tidak ingin kamu tahu."
"Karena dia tidak mau aku kawatir padanya?" Tebak Adis dengan mudah. Joo  mengangguk. "Bodoh!" Adis langsung mengumpat. Dan seolah menjadi lampu yang bersinar terang, Adis langsung dapat menerka tentang kejadian yang sebenarnya dan inilah yang dimaksud Joo dengan ia yang dapat menemukan alasannya, "Jadi karena ia tidak mau aku kawatir, dia tidak mau menceritakannya padaku. Karena itu jugalah akhirnya dia menyuruhmu untuk menggantikannya membalas pesanku?" Tanya Adis meminta pembenaran, dan Joo pun lagi-lagi mengangguk.
"Tapi terkadang dia sendiri yang membalas pesanmu meskipun dia harus menggunakan tangan kirinya dan tampak kesusahan" Ujar Joo sambil menegakkan kepalanya sedikit, "dia benar-benar tidak ingin kamu sedih." Joo menatap Adis dengan pandangan lurus.
"Kapan kejadian itu terjadi?" Tanya Adis lagi masih dengan wajah sedih yang mengeluarkan air mata.
"Sekitar 3 bulan yang lalu." Jawab Joo langsung. Mengetahui bahwa kejadian itu sudah lumayan lama, ada sedikit rasa lega di hati Adis, dia berfikir mungkin kondisi Dema sekarang sudah membaik.
"Dema benar-benar keterlaluan! Seharusnya dia menceritakannya padaku, agar aku bisa menemaninya. Kalau aku kawatir, bukankah itu hal yang wajar. Seperti ini justru membuatku lebih sedih." Ujar Adis mencoba mengungkapkan perasaannya sekarang, sayangnya Dema tidak mendengarnya.
"Lalu kenapa kamu bisa janjian denganku? Apa Dema yang menyuruhmu?" Tanya Adis lagi kembali ke masalah yang tadi. Joo tampak menghela nafas, dia menatap ke sekelilingnya berharap ia memiliki waktu untuk beristirahat sebentar saja.
"Helllooooo.." Adis tampak kesal, melihat Joo yang lama menjawab pertanyaannya.
Joo masih menatap ke sekelilingnya saat ia mengatakan, "ceritaku belum selesai sampai disitu. Apa kau pikir keadaan Dema sudah membaik? Meskipun tangannya patah, Dema berusaha untuk tetap membalas pesanmu, hanya saat ia benar-benar tidak bisa, baru ia memintaku dan itu hanya untuk mengetiknya saja. Tapi.." Joo menolehkan pandangannya, menatap Adis dengan amat tajam, "Sudah dua minggu ini Dema tidak membalas pesanmu, semuanya akulah yang membalas bukan hanya mengetik, semua itu murni aku yang menulis."
***
Gantian Adis yang menatap Joo dengan tajam, ada keheningan yang menyeruak di antara mereka, 1 menit... 5 menit mereka masih sama-sama diam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, baru menit ke-7 Adis membuka suaranya, "maksudnya?" Kening Adis kembali berkerut. Joo menghela nafas.
Sebenarnya Adis paham dengan apa yang diucapkan Joo barusan, tapi dia tidak ingin melanjutkan pikirannya dengan pikiran yang tidak-tidak, "Tolong katakan kepadaku dengan sejelas-jelasnya!" Pinta Adis masih dengan tatapan tajamnya. Lebih baik Joo mengatakan semuanya dengan jelas daripada dia disuruh menerka tentang kejadian yang sebenarnya.
"Dengan sesingkat-singkatnya?" Tanya Joo melengkapi, Adis menggeleng, "Dengan sedetail-detailnya" Jawab Adis, kali ini wajahnya sangat serius.
"Ada syaratnya!" Ujar Joo lagi, Adis bertanya "apa" dengan bahasa isyarat, " Kau tidak boleh bicara, kau hanya diam dan mendengarkan aku." Adis mengangguk.
"Mungkin ini akan membuatmu sangat tergoncang" Ujar Joo lagi, Adis sedikit tersentak. Tanpa sadar dia menelan ludahnya, sepertinya dia tidak siap.. tapi lidahnya terkunci, dia tidak bisa bicara, sudah terlambat, Joopun memulai ceritanya...
" Dimulai dari..."

Lover Chocholate Caffe Part 2

di 01.48 1 komentar



Dua tahun yang lalu...Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan! Hari yang paling dinantikan sekaligus menegangkan bagi seluruh pelajar SMA di Negara Indonesia. Semua pasti berharap kata "lulus" yang terlihat di balik amplop, namun ada beberapa yang harus menerima takdir yang berkata lain untuknya, tapi bukankah selalu ada hikmah di balik setiap musibah dan cobaan? :-)Hal yang sama juga dirasakan oleh Adis saat itu, dia terlihat sangat gugup. Ada keringat dingin keluar dari dahinya. Dia terus meremas jari-jarinya, hal yang biasa ia lakukan saat kondisinya sedang gugup, cemas, dan takut.Tiba-tiba ada seseorang mengambil tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Adis terkesiap, dia melihat orang yang menggengam tangannya itu dan ia langsung terkesima saat ia melihat Dema dengan senyum lembutnya mencoba menenangkan dirinya. Seolah Dema berkata pada dirinya bahwa semua pasti akan berjalan dengan baik-baik saja. Saat itu Adis merasakan dirinya langsung tenang dan entah mengapa dia percaya pada Dema.Dema seperti sebelah sepatu untuknya. Dia selalu ada kapanpun ia butuhkan dan selalu menemaninya kemanapun ia berjalan. Dema yang tidak keberatan jika dirinya disebut "kacungnya Adis". Dia selalu membuat Adis nyaman berada disisinya. Saat Adis sedih, Dema siap menghiburnya sampai Adis tidak sedih lagi. Saat Adis sedang marah, Dema siap menjadi tempat pelampiasan kemarahan Adis sampai perasaan marah Adis hilang. Dema selalu menjadi tempat curahan hati Adis dan dia selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Adis..."Dem, aku pengin coklat panas..." Pinta Adis tiba-tiba. Dema yang tahu kebiasaan Adis ini tanpa ragu-ragu segera menyetujui permintaan Adis padahal sebentar lagi hasil kelulusan akan segera diumumkan. Dia sudah berjanji akan menuruti semua permintaan Adis karena Adis lah yang telah membantunya saat ia terpuruk dulu, dia tidak akan membiarkan Adis sedih karena baginya Adis adalah satu-satunya harta berharga yang ia punya.Setelah Dema kembali dari Lover Chocholate Caffe untuk membeli coklat panas pesanan Adis, rupanya Adis sudah tidak ada di tempatnya semula. Dema langsung pergi mencarinya namun dia tidak menemukan Adis dimanapun. Dema mulai kawatir apalagi dia tahu bahwa hasil kelulusan sudah diumumkan dan dia melihat ada beberapa siswa yang menjerit dan menangis histeris karena mereka tidak lulus. Dema sekarang sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri apakah ia lulus atau tidak karena yang dipikirannya hanyalah Adis.Lalu tiba-tiba terlintas dipikiran Dema ruang laboratorium yang terletak di lantai 3 gedung sekolah. Tempat dimana dulu ia berniat untuk bunuh diri namun digagalkan oleh Adis dengan cara melemparkan sepatu ke arah kepalanya dan langsung membuat ia pingsan seketika itu juga.Meskipun ada keraguan dalam hati Dema bahwa Adis sedang berada di tempat itu namun Dema tetap memutuskan akan mencoba melihat ke tempat itu. Siapa tahu saja keraguannya itu ternyata salah..Dan rupanya memang salah! Karena Adis memang benar ada di tempat itu. Sedang meringkuk di tangga. Ada isakan tangis yang terdengar menyayat hati. Dema terpaku di tempatnya. Dia langsung menjatuhkan gelas plastik yang berisi coklat panas itu dan dengan wajah syoknya ia berlari mendekati Adis. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, dia benar-benar tidak ingin melihat Adis sedih apalagi menangis sampai seperti ini. Dema bingung harus melakukan apa. Wajahnya berubah jadi pucat dan dia benar-benar takut sekarang.Dengan tangan gemetar, Dema mencoba untuk memegang tangan Adis. Berharap dia bisa menenangkan hati Adis dan membuat gadis itu berhenti menangis. Hatinya benar-benar sakit sekarang, ada air mata yang mengenang di pelupuk matanya. Andai bisa kesedihan itu diberikan padanya, maka ia siap menerima semua kesedihan itu sekarang juga.Adis justru semakin mengencangkan tangisannya dan itu membuat Dema hampir mati kaku. Saat Dema hendak membasuh air mata Adis, tiba-tiba..."BAAAA!!!" Adis menjerit tepat di depan wajah Dema. Mengkagetkan Dema dengan wajah ceria tanpa merasa berdosa sama sekali. Dengan polosnya Adis tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah pias Dema yang sangat terkejut. Adis senang karena niatannya untuk mengkerjai Dema berhasil 100%.Dema menatap Adis dengan pandangan yang memiliki banyak arti. Ada kebahagian, lega, heran, dan sedikit rasa kesal. Andai saja Adis tahu jantungnya hampir loncat keluar karena dia mengira sedang terjadi hal buruk yang menimpa Adis."Hei...aku lulus!" Teriak Adis girang sambil memamerkan kertas amplop kelulusan tepat di depan wajah Dema. Seharusnya Dema marah karena Adis mengkerjainya dan tanpa perasaan bersalah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahnya yang mungkin terlihat sangat bodoh di depan Adis. Tapi entah kenapa perasaan marahnya tiba-tiba hilang begitu saja saat melihat senyum Adis.Demapun akhirnya ikut tersenyum, "Bukankah sudah ku katakan semua akan baik-baik saja." Ucap Dema dengan lembut."Percayalah padaku Adis." Lanjut Dema lagi yang terdengar dari nadanya bahwa ia benar-benar sedang bersungguh. Saat itu Adis hanya menganggap bahwa itu adalah ucapan biasa dan diapun hanya mengangguk."Dan jika aku berkata bahwa aku akan menjagamu, kau juga harus percaya itu." Ucap Dema dengan serius. Adis sempat terkejut dengan ucapan Dema barusan, bingung harus bertingkah apa,  akhirnya Adis hanya meringis sambil menunjukkan deretan giginya persis seperti anak kecil.***"Itu..." Adis tampak salah tingkah mendengar ucapan Joo barusan. Bukan karena ia baru mengetahuinya, justru ia sudah tahu lama bahwa Dema menyukainya tapi dia masih belum mau membuka hatinya untuk mencintai seseorang yang berstatus sebagai kekasih, dia hanya ingin semua itu berjalan apa adanya seperti air mengalir. Biarkan cinta itu menyapanya terlebih dahulu."Oyah..kenapa Dema tidak datang hari ini? " Tanya  Adis mengalihkan pembicaraan.  "Yang datang justru orang aneh yang tidak dikenal yang entah darimana asal-usulnya tiba-tiba berbicara banyak tentangku dan yang parahnya adalah, orang itu berkata tahu semuanya tentangku! Ooouuch! " Adis menggerutu pada dirinya sendiri sambil memajukan bibirnya, seolah ia sedang meratapi nasibnya hari ini yang tidak beruntung karena bertemu dengan orang aneh yang bukan lain adalah Joo.Joo pun tidak tersinggung dengan sindiran Adis, dia hanya tersenyum dan kembali menyeruput secangkir coklat panasnya yang sebenarnya sudah tidak panas lagi."Sudah aku katakan Dema masih di Amerika sekarang. Oyah.. mengenai aku yang datang tiba-tiba dan seenaknya berbicara banyak tentangmu seolah aku ikut campur dengan kehidupanmu dan mengungkit masa lalumu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya." Joo tulus meminta maaf pada Adis. Adis hanya menjawab dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya."Tapi perlu kamu tahu, aku datang kesini bukan tanpa maksud apa-apa." Tiba-tiba nada Joo berubah menjadi serius, tatapan Joo tiba-tiba berubah menjadi tajam. "Sudah aku katakan di awal bukan bahwa kita memang mempunyai janji untuk bertemu? Sebenarnya aku ingin mengatakan...""STOP! Tunggu dulu..." Tiba-tiba Adis memotong ucapan Joo, sepertinya ada ucapan Joo yang tidak bisa ia terima begitu saja. Adis tampak tidak setuju dan dia dengan kening yang berkerut menatap Joo dengan heran, "Untuk ucapan maafnya aku masih bisa mengerti, tapi untuk yang selanjutnya aku sama sekali tidak bisa mengerti. Kau bilang apa tadi? Kita janjian?" Wajah Adis benar-benar menunjukkan ekspresi heran sekarang dan dia benar-benar sulit untuk mempercayainya. Sepertinya Adis ingin mengatakan bahwa ia benar-benar bertemu orang aneh yang sedang mengigau. Adis rasa sudah saatnya ia pulang dan lagian coklat panasnya sudah habis sedari tadi."Iya! Kita memang janjian Adis dan perlu kamu tahu selama ini..." Joo mengatur sedikit nafasnya yang tiba-tiba memburu tidak beraturan, dia tahu gadis ini pasti tidak akan mempercayainya tapi ini kewajibannya, setidaknya dia menganggap ini adalah sebuah keharusan baginya untuk mengatakan yang sebenarnya. "akulah yang mengirim dan membalas pesanmu" Ucap Joo akhirnya. Sedikit demi sedikit Joo akan membuka cerita yang sebenarnya kepada Adis, ini baru awal, Joo tidak ingin untuk selanjutnya lebih berat dari ini, meskipun Joo tahu untuk selanjutnya pasti lebih sulit bahkan dia tidah tahu mampukah ia mengatakannya.Mata Adis melebar mendengar pengakuan Joo. Mulutnya pun ikut terbuka menandakan bahwa ia sedang berada di puncak keterkejutannya."OH GOD... !" Butuh waktu beberapa detik untuk akhirnya Adis mengucapkan kata itu. Dan seolah itu sebagai kata penutup untuk perbincangannya dengan Joo, Adis segera berdiri sembari membawa tasnya. Baginya cukup sampai disini saja pertemuannya dengan laki-laki itu.Tapi saat Adis baru melangkah sejauh 3 langkahan kakinya, Joo langsung berkata dengan suara yang cukup keras, "2 Minggu yang lalu, kamu ulang tahun dan pada hari itu kamu mendapatkan sebuah kado istimewa dari Ayahmu berupa kalung berlian, 3 hari kemudian temanmu yang bernama Anjas menembakmu, pada saat itu kamu meminta saran dariku dan aku menjawab 'coba tanyakan pada hatimu sendiri, karena hanya kamu yang mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya', lalu ada kejadian seorang temanmu yang menghiyanatimu, kalau enggak salah namanya Tara, hal itu membuatmu sangat marah bahkan kamu melampiaskan kemarahanmu dengan cara mengatakan hal-hal kasar padaku seolah aku adalah Tara, seminggu yang lalu kamu sakit, apakah sekarang sudah sembuh? Ada banyak hal yang kamu ceritakan padaku, saat kau menangis karena terkena bola yang sedang di tendang anak kecil, kamu yang nyasar saat belanja ke pasar, kamu yang penasaran dengan sate kelinci, kamu yang jalan-jalan ke Mall, kamu yang selalu marah jika pesanmu tidak di balas maksimal setelah 3 jam, jika itu terjadi maka kau akan mengirimkan pesan yang berbunyi : 'MENYEBALKAN! MENYEBALKAN! MENYEBALKAN!' "  Joo mengatakan itu reflek dari pikirannya, dia mencoba mengeluarkan semua yang dia ingat untuk dijadikan sebagai bukti bahwa ia tidak berbohong.Mendengar cerita Joo barusan, Adis langsung mematung di tempatnya. Dia terpaku sehingga rasanya dia berubah menjadi patung. Adis tidak dapat berkata apa-apa lagi, bahkan dia seperti tidak punya pilihan sekarang. Apa yang Joo ucapkan adalah sebuah kejujuran. Lalu kenapa harus seperti itu? Dimana Dema?"Apa kau pikir, aku langsung percaya begitu saja? Bagaimana jika kau sudah membaca semua pesan-pesan itu?  Atau kau mencuri pesan Dema tanpa Dema tahu?""Apa?!" Gantian Joo yang terkejut."Selama aku tidak bisa menerima alasanmu, aku tidak akan pernah percaya." Ujar Adis lagi."Maka dari itu dengarlah cerita dariku, maka kau akan menemukan semua alasanku." Balas Joo dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sedang gemas sekarang. Dia sudah tahu Adis bukanlah seorang gadis yang mudah dihadapi, setahu dia yang mampu bertahan menghadapi keras kepala seorang Adis hanyalah Dema."Baik! Mulailah bercerita..dimulai dari pertanyaan kenapa kau bisa tahu semua isi pesanku?" Tanya Adis lagi yang masih berusaha mempertahankan dirinya agar tidak percaya, kini dia sudah kembali duduk di kursinya. Dia tidak akan bisa pulang sebelum menyelesaikan urusannya dengan laki-laki ini.Joo tampak berusaha menahan kekesalannya, dia menarik rambutnya demi menahan kemarahannya dan tetap bersabar. "Sudah aku katakan Adis! Aku lah yang mengirim dan membalas pesanmu!" Ujar Joo yang menahan nada suaranya agar tidak berteriak meskipun rasanya dia ingin sekali berteriak."Oke! Lalu kenapa kamu yang mengirim dan membalas pesanku? Kemana Dema? Kenapa dia tidak mau membalas pesanku?" Suara Adis sedikit meninggi, suasana yang sudah panas semakin panas. Adis tampak berapi-api, tidak ada tekadnya untuk mengalah sedikitpun."Karena Dema sakit!!" Jawab Joo dengan berteriak. Ya! Akhirnya Joo tidak bisa menahan kesabarannya. Tanpa sadar dia sudah menumpahkan semua perasaannya, dan Adis yang belum siap menerimanya terlihat sekali bahwa ia sangat shock mendengarnya. Melihat wajah pias Adis yang tiba-tiba terlihat seperti orang bodoh, Joo tampak menyesal telah mengucapkannya dengan berteriak."Adis.. Dema sakit di Amerika" Joo mencoba mengulangi kata-kata itu lagi kali ini dengan suara yang lembut namun terdengar sangat menyesakkan.***

Baca Juga Postingan Terbaru

 

Catatan Sakura Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates