Tampilkan postingan dengan label *) Aina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *) Aina. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Friend..

di 06.40 0 komentar

Friend , berjanjilah padaku.. apapun yang terjadi kita adalah teman
Berjanjilah padaku, kau akan selalu mengingat namaku meski wajahku sudah tidak teringat lagi oleh mu
Berjanjilah padaku bahwa tiap detik kebersamaan kita akan menjadi suatu kenangan yang menurutmu sangat indah dan tak terlupakan
Dan..
Berjanjilah padaku.. kau akan selalu mendoakanku jika suatu saat nanti aku tiada dan jauh darimu...


Teman tetaplah teman .. tidak peduli dimanakah ia sekarang, seperti apa dia sebenarnya, bagaimana pikirannya tentang kita.. dia akan terus menjadi seorang teman..
Aku bersyukur karena saat aku berada di Pondok, aku memiliki teman-teman yang berada di sisiku..
Aku perkenalkan mereka..
Yang pertama : Soraya Umami..
Dia adalah teman kamar ku dan juga teman kelasku, dia teman yang selalu mendengarkan tiap keluh kesah, cerita, dan curhatku, dia teman yang pertama menabuh genderang peperangan saat ada teman lain menyakitiku, dia teman yang selalu siap kapan saja untuk membantuku, dan lebih dari itu dia adalah teman yang tak akan terganti..
Satu hal yang tidak akan aku lupakan dari sosoknya.. adalah kesetiannya. Dia adalah orang yang selalu menjaga kuat prinsipnya, bukan teman yang seperti bunglon (jika di dekat A akan membela A, jika di dekat B akan membela B), dia pendengar yang baik.. kau tahu bukan? Banyak orang yang mudah menjadi pembicara tetapi tidak mau menjadi pendengar ? Artinya mereka lebih suka menasehati dan tidak menyukai jika di nasehati..
Tapi Soraya Umami menunjukkan padaku.. bagaimana keseimbangan itu harus. Dia selalu menjadi pendengar baik dan dia akan menjadi pembicara saat dia harus berbicara.
Dia mengajarkan padaku arti kebersamaan dan aku pikir jika aku di tanya siapa orang yang membantuku untuk kuat dan bertahan berada disini... aku akan menjawab, salah satunya adalah dia...
Yang ke dua..
Umi Muzdalifah namanya.. Dia.. adalah sosok yang sulit aku gambarkan. Mengapa? Karena dia mungkin adalah teman .. yang paling sulit bisa aku pahami. Aku yakin.. mungkin di saat teman lain meninggalkanku, dia yang akan tetap tinggal bersamaku, saat teman lain.. tidak mau mendengarkanku.. dia akan tetap mendengarkanku.. di saat teman lain tidak percaya padaku.. dia akan tetap percaya padaku..
Entahlah, aku pun heran dengan sosoknya.. dia begitu lugu, polos, dan.. tidak tersentuh. Entah itu tersentuh dengan kebencian, dendam, iri, siasat buruk, pikiran buruk, dll..
Tidak ada yang mengenalnya lebih dekat kecuali yang ku tahu dia hanya terbuka dengan 2 teman dekatnya yaitu Mba Aisyah dan Mba Wiwi..
Aku tidak tahu apakah aku menjadi yang ke-3 sebagai teman dekatnya... Tapi yang jelas..aku menjadikannya sosok yang berarti buatku.. kekuatan dan semangatnya untuk mencari ilmu agama .. tidak akan pernah terkejar olehku. Satu-satunya orang yang kutemui yang pernah berkata, “aku rela mati di pondok ini.” Adalah dia..
Dasyat bukan? Benar! Itulah mengapa aku menjadikannya sebagai salah satu sosok yang  aku teladani..

Yang Ke tiga..
Hm.. satu orang yang aku sendiri tidak tahu alasan mengapa aku memilihnya.... dia adalah Maimunah, anak dari Cirebon yang wajahnya gak kalah cute dengan personil CherryBelle..
Dia .. masih kecil, umur nya terlalu jauh di bawahku, bayangkan saja aku lulus SMA sedangkan dia lulus SD. Kadang aku suka menertawainya atas tingkah kekanak-kanakkannya , kebawelannya, kemanjaannya, .. tapi aku sadari aku cukup terhibur karenanya..
Dia membuatku merasa menjadi sosok kakak .. meskipun aku sendiri meyakini aku belum dewasa, tapi dia dengan segala tingkahnya mau tidak mau membantuku untuk lebih mengerti dan mengalah..
Aku juga tidak tahu mengapa aku peduli padanya, menyayanginya seperti adikku sendiri..
Kadang tingkahnya yang suka ngambek itu membuatku rindu padanya..
Aku tahu,,dia kadang suka mendekatiku saat aku tidur, entah dengan membuka selimut yang menutupi wajahku, duduk di tempat tidurku, atau mungkin sekedar melirik ke arahku..
Yang jelas.. aku cukup terimakasih atas kehadirannya selama ini.. Mungkin aku tidak akan menemukan adik yang bawel, manja, cerewet, suka ngambek, lebay, tapi cantik, manis, imut, keren, seperti dia..

Masih banyak lagi nama lain yang tidak akan pernah aku temukan yang sama seperti mereka, Widi, Mba Susi, Mba Zulfa, Tenti, Indri, Mba Nisa, Mba Al, mba Fitri, Mba Titik, Mba Tuti, Mba Eva, Mba Hani, Mba Hani M, Mba Nafis, Riska, Mba Lia, Ika, dan nama yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu..

Friends.. aku berjanji, akan tetap mengingatmu meskipun mataku sudah tak dapat lagi melihatmu
Aku berjanji kalian tak akan tergantikan meskipun bibirku tak dapat lagi mengucapkannya
Aku berjanji cerita tentang kalian akan menjadi cerita yang indah meskipun aku tak dapat lagi mendengarnya
Aku berjanji.. di setiap langkah hidupku akan selalu ada nama kalian yang ku simpan di dalam hatiku meskipun tanganku tak dapat menggandengmu untuk selalu bersamaku..
Dan..
Aku berjanji.. aku akan mengingat ini sebagai memori kebahagianku dan tak akan terlupa di setiap kidung doaku..
Bersama kalian..adalah hal yang sangat ku syukuri, kawan.. J

Syukron Katsiron, Jazakillah, BarakallohuFik..


Selasa, 20 Agustus 2013

Tidak akan terlupa

di 08.33 1 komentar
Kita akan mengerti itu berharga saat kita kehilangannya,
Kita akan mengerti itu indah, saat kita tidak dapat melihatnya lagi
Kita akan mengerti itu terbaik, saat kita tidak menemukan yang lebih baik lagi selainnya..
Karena itu, seharusnya kita lebih mengerti dari awal.. dan bersyukur adalah cara pertama kita untuk berterimakasih atas semua yang Dia kasih di dalam hidup kita.. karena dengan begitu kita akan memahami bahwa Dia selalu mencintai kita..


Entah apa itu yang namanya persahabatan, aku pun tidak mengerti dengan jelas. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan itu. Karena semua perasaan itu tak dapat di jelaskan oleh indera ke limaku.Yang ku tahu bahwa Tuhan Maha Penyayang.. dan perasaan ku ini adalah sebagian sedikit dari banyaknya rasa kasih sayang-Nya yang tak akan pernah terjangkau..
Perasaan tak terlukiskan ketika kita menemukan orang yang benar-benar tulus menyayangi kita, satu hal yang perlu di ketahui.. bahwa sebanyak-banyak nya harta di dunia ini, tidak akan pernah sanggup membeli apa itu yang namanya ketulusan...
Masih terlintas di benakku.. saat itu aku jatuh sakit. Aku merasakan ujian paling berat di Pondok itu adalah saat aku harus sakit. Kita harus berada di kondisi yang tidak mengenakkan, tidur di kasur yang aku sebut sebagai kasur “merana” (kasur tempat orang yang tidak berdaya), tidak ada yang memerhatikan, semua “usdek” alias urusan dewek-dewek..
Di saat itulah seharusnya kita sedang belajar bahwa tidak ada yang kita harapkan kecuali kepada Allah semata.
Aku merasakan bagaimana air mata ini mengalir saat teringat oleh orang tua ku.. dulu, mungkin ketika aku sakit mereka akan berada di sampingku, merawat, memerhatikan, mempedulikan ku dengan kasih sayang tanpa pamrih nya sampai aku sembuh..
Tapi disini? Aku menangis sejadi-jadinya.. rasanya aku ingin kabur, berlari sekencang-kencangnya, dan berteriak “Aku ingin pulang”
Tapi..
“Dih! Cengeng! Baru ngerasain sakit kaya gitu aja udah nangis. Manja! Gak malu apa .. udah tua kok” Tiba-tiba saja ada seseorang mengatakan itu membuatku seperti tertendang sampai ke Kutub Selatan. Aku malu, seperti tertampar, dan itu membuatku kesal.
Aku melirik sebal ke arah orang yang tadi mengatakan itu padaku, “Mba Ainoel gak ngerasain sih apa yang aku rasain!.”
Dia tersenyum ke arahku, seperti menertawaiku dan membuatku tersadar, tentu saja tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah merasakan apa yang aku rasain, tiap orang pasti pernah sakit. Dan aku lagi-lagi merasa dia sedang mengejekku atas kekonyolanku dan sifat kekanakku tadi.
Meskipun dia mengatakan itu, tapi dia tetap saja yang merawatku. Tidak pernah lupa membelikan makanan untukku, menemaniku ketika aku hendak ke kamar mandi, mencucikan pakaianku, mengambilkan obat untukku, belum lagi ketika aku muntah.. mengelap air mataku, mengompres keningku, semua itu dia lakukan persis seperti orang tuaku..
Bukan hanya dia, ada juga nama seperti Soraya Umami, Tuty Alawiyah, Widyani, Kholifatul Zulfa, Susi Sulistiawati, Umi Mudzalifah, Indriyani, Titik Asyamul M, yang tanpa kuminta ikut merawatku, menyemangatiku, menemaniku, dan itu semua benar-benar indah.. kau tahu? Tidak ada kata yang tepat untuk melukiskan perasaan yang aku rasakan saat itu.. dan ucapan ‘terimakasih’ tidak akan cukup aku berikan pada mereka..
Mereka semua.. Allah kirimkan untukku... dan aku menyadari inilah yang dinamakan dengan kekuatan...

Mba Ainul, ingatkah kamu? Saat kita berada di kolam saat itu.. hanya ada kita berdua.. di depan keran , di saat butiran hujan jatuh, di bawah langit malam dan para penghuninya, dan lebih dari itu.. di hadapan Tuhan yang muhal Tuli dan Buta.. aku pernah mengatakan bahwa semua ini ... tidak akan pernah aku lupakan. 



Terimakasih

di 07.30 0 komentar




Apa yang membuat persahabatan itu indah ?
Karena persahabatan memiliki rasa kesal sekaligus maaf, juga benci sekaligus sayang..

Tidak ada yang bisa lolos dari yang namanya pertengkaran. Pertengkaran itu akan selalu ada, sekecil apapun. Tapi pertengkaran itu akan berubah menjadi indah takala rasa maaf itu hadir di tengah-tengah memberikan kebahagian dan menambahkan rasa sayang..

Sifat egoisme selalu ada pada diri manusia tak luput bagi diriku yang termasuk manusia. Kadang ada rasa ingin di hargai, di akui, di anggap, di pandang, di rasa..
Seiring bertambahnya usia persahabatan kami, tak luput juga pertengkaran hadir sebagai bumbu penyedap.. Entah berapa kali kami bertengkar, 3, 4, 5 atau mungkin lebih..
Di setiap pertengkaran, seringnya lah aku yang menjadi tokoh yang marah.. sedangkan Ainul adalah tokoh yang aku marahin..
Tidak pernah ada kata-kata kasar dengan nada keras terlontar, hanya diam seribu bahasa. Tapi meskipun hanya diam.. itu sudah begitu sangat menyakitkan, karena yang tadinya selalu bersama, berbincang, sekarang hanya untuk sekedar menyapa pun menjadi begitu sangat langka bagi kami..
Aku adalah tipe orang yang kuat jika di suruh ‘ngambek’, meskipun sebenarnya itu juga sangat menyiksaku karena aku juga tipe orang yang kalau marah anget-angetan ta’i ayam..
Tidak sulit bagi orang meminta maaf padaku, dan itulah mengapa aku begitu heran padanya..
Sebenarnya obat dari penyakit ‘ngambek’ku adalah kata ‘maaf’.. Ibuku sudah sangat memahaminya.. tapi nampaknya bagi seorang Ainul Khasanah.. dia tidak bisa memahaminya atau mungkin lebih tepatnya tidak mau memahaminya..
Entahlah, dia pun ternyata kuat di ‘ngambek’ in orang. Terbukti pernah suatu ketika, kami diem-diem-an hampir seminggu padahal kami tahu bahwa Kanjeng Nabi melarang umatnya untuk diem-dieman lebih dari 3 hari.. Selama seminggu itulah aku merasa begitu sangat kesepian meskipun rasa kesepian itu Aku sembunyikan rapat-rapat di hadapannya.. Ingin aku meminta maaf padanya tapi rasa ‘gengsi’ ku langsung protes dan menolak mentah-mentah. Pada akhirnya keinginan minta maaf terlebih dahulu itu hanya bisa aku telan kembali...
Aku akui, aku memiliki sifat egois dan gengsi yang tinggi.. itulah mengapa butuh porsi kesabaran yang lebih untuk menghadapiku (*senyum kesadaran)
Syukurnya Ainul memiliki perut yang besar untuk menampung porsi lebih itu.. (ehh bukan perut tapi hati.). Seringnya dia yang akhirnya minta maaf padaku atau mengajak aku ngobrol dulu atau mengirimku surat terlebih dahulu..
Pernah, sekali.. kita bertengkar hebat, bahkan jika aku boleh lebay, aku menyebutnya sebagai perang dunia ke-3. Aku begitu marah padanya meskipun aku tahu dia tidak sepenuhnya salah. Tapi lagi-lagi Setan dalam diriku menang, aku pun mengetuk palu 3 kali.. ‘bahwa aku tidak akan mengalah.’
Tapi rupanya dia pun ‘membusungkan dada’ , seolah berkata padaku ‘tidak ada bendera putih lagi kali ini’. Aku pun hanya tersenyum sinis, rupanya dia juga tidak mau mengalah. “Oke.. kita lihat saja nanti, siapa yang akhirnya akan mengalah terlebih dahulu..”
Lalu.. bagaimanakah akhirnya? Siapakah yang menang..?
Rupanya aku dulu yang meminta maaf padanya, lewat surat yang aku titipkan pada temanku yang bernama Aya. Dan ternyata.. dia pun juga akan melakukan hal yang sama. Dia berkata, sebenarnya dia sudah niat akan mengirim surat untukku..
Dalam balasan surat yang dia tulis untukku, dia berkata .. bahwa dia juga menyesal dan menjelaskan semuanya padaku tentang perkara yang telah membuatku marah..
Dan.. aku baru tahu ternyata dia tidak seperti yang aku pikirkan, bukan! Bukan karena dia ‘membusung dada’ atau tidak mau mengalah selama ini.. karena sebenarnya dia tidak memiliki gengsi yang tinggi seperti ku,
dia ikut mendiami ku karena dia tahu.. satu-satunya cara untuk berdamai adalah membiarkan waktu,,
Membiarkan waktu untuk membuatku berfikir dan memahami keadaan yang sebenarnya.. karena jika kata ‘maaf’ itu langsung terlontar, aku tidak akan bisa berfikir dan memahami keadaan yang sebenarnya..
Ya! Kejadian itulah yang membuatku sadar.. bahwa aku bersyukur mengenalnya dan menjadikannya sahabatku, karena dengannya yang memahamiku dan mengerti diriku lebih dari diriku sendiri..


Untukmu.. “Terimakasih yaa”

Awal Mula...

di 07.13 0 komentar
Awal Mula..

           
“Saat itu.. aku menganggap bahwa seorang sahabat hanyalah seorang teman yang selalu ada saat kita ada. Tapi saat ini aku sadar bahwa sahabat yang sebenarnya adalah seorang teman yang selalu ada di saat kita ada dan tidak ada...”

Perjumpaanku dengan seorang gadis bernama Ainul Khasanah dimulai saat aku baru berumur 1 hari di Pondok Pesantren Syech Said Bin Armia. Hari itu aku sudah banyak berkenalan dengan teman baru dan aku baru melihat dia.. Betapa masih lekat di ingatanku, saat itu dia sedang berdiri di depan pintu kamar 3 (Kamar ku dan juga kamarnya). Dia menatapku sembari ingin menghulur senyum sedangkan aku menatapnya sembari menyembunyikan senyum.
Hari semakin berlalu.. dan aku hanya mengenal nama panggilannya, “Ainul”. Tidak ada yang aku tahu tentangnya selain dia gadis yang putih, ada tahi lalat di atas bibirnya, dan.. cantik.
Dia memiliki seorang saudara bernama Fitri, dan saat itu aku lumayan dekat dengan saudaranya. Seiringnya waktu .. aku mulai mengamati tingkah lakunya yang tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya yang baru mencicipi status menjadi seorang santri.
Dia orang yang tidak ada malu, selalu tersenyum, tertawa, meledek bahkan memeluk seseorang yang baru di kenalnya. Bukan hal yang mudah melakukan itu, karena butuh kehati-hatian yang super untuk menjaga ‘imej’ kita di depan orang yang baru mengenal kita. Menurutku pandangan orang pertama tentang kita itu adalah sesuatu yang sangat penting dan sakral, aku sangat menjaga diriku di depan orang yang baru mengenalku. Tapi dia.. seolah menolak pemikiranku. Dia bersikap apa adanya, tidak peduli apa pandangan pertama orang tentangnya. Sifatnya itulah yang baru ku sadari.. adalah sifat menjadi diri sendiri. Tidak di buat-buat apalagi di lebih-lebihkan..
Suatu hal lagi yang membuatku tiba-tiba berubah menjadi kagum padanya adalah sifatnya yang sabar..
Sampai detik ini pun aku tidak pernah melihatnya marah-marah, hanya sekilas kemudian kemarahannya itu dengan cepatnya hilang begitu saja..
Lalu muncullah keinginanku.. untuk lebih dekat dengannya. Dengan keberadaanku disini, aku sadar bahwa aku membutuhkan seseorang yang bisa aku percaya untuk dijadikan seorang sahabat..
Dan pilihanku jatuh pada sosoknya. Aku sudah begitu kagum dengan keramahannya, sifat polosnya, sabarnya, dan semua itu membuatku merasa aku tidak akan kesepian berada di Pondok ini jika bersahabat dengannya.
Malam itu, malam ‘ta’liman’ (Pengajian yang diisi langsung oleh Kyai ku) aku mengatakan padanya tentang apa yang aku inginkan. Dan dia pun tersenyum sembari mengangguk. Aku membalas senyumnnya. Lalu aku menghulurkan tanganku, dan dia langsung menerimanya.


Jabatan tangan malam itu.... kami artikan sebagai awal mula persahabatan kami....

Baca Juga Postingan Terbaru

 

Catatan Sakura Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates