Minggu, 19 Agustus 2012

Utang Cimol Part 7

di 03.26 0 komentar
               

 Nala membuka matanya. Sebuah aroma yang sangat menusuk hidungnya membuatnya kembali ke alam sadarnya. Nala melihat sebuah ruangan yang berbeda, dia tahu ini bukan kelasnya.Ini Ruang UKS. Nala mencoba untuk duduk, namun kondisi badannya masih lemah, kepalanya juga masih terasa berat.
                “Kamu gak apa-apa? Kalau masih sakit, mendingan pulang aja.”Seseorang mengucap dengan lembut kepadanya, membuat Nala menoleh.
                “Vega, aku kenapa?.” Tanya Nala kepada Vega. Vega adalah teman sekelasnya dan dia juga menjabat sebagai Seksi Kesehatan di kelasnya. Nala bingung mengetahui kondisi tubuhnya yang tiba-tiba menjadi lemah padahal tadi sebelum berangkat dia sudah sarapan dan dia yakin dia dalam keadaan baik-baik saja.
                “Kamu pingsan Nala. Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu pingsan? Kamu lagi sakit yah? Atau lagi banyak pikiran?.” Vega malah balik bertanya. Nala hanya menggeleng.
                “Ya udah deh. Aku mendingan pulang aja kali yah. Mungkin setelah istirahat di rumah, keadaan aku jadi membaik.” Ujar Nala akhirnya. Dia merasa tidak kuat jika harus kembali melanjutkan kegiatannya di sekolah, entah kenapa kepalanya benar-benar berat dan dia ingin sekali tidur. Nala beranjak dari tempat tidur dengan di bantu Vega.
                “Oyah Nala, kamu udah tahu berita heboh tentang Sachy belum?.” Tiba-tiba Vega bertanya dan itu membuat Nala kembali mengingat kejadian yang sebenarnya.
                “Oyah, aku pingsan kan karena itu.” Gumamnya pelan, namun Vega dapat mendengarnya jelas. Vega pun tidak melanjutkan ucapannya lagi karena ternyata Nala sudah mengetahuinya.
                                                                                                ***
                “Berita menghebohkan datangnya dari Aktor yang sedang naik daun, Sachy Saldevhes yang rupanya adalah seorang laki-laki pengidap kelainan Homo seksual. Sachy yang diketahui masih duduk di Bangku SMA itu rupanya pernah berpacaran dengan sesama jenis. Ada yang mengatakan bahwa kekasih sejenisnya itu adalah orang Indonesia ada juga yang mengatakan orang Korea. Entah mana yang benar, sampai saat ini pihak dari Sachy sendiri belum mau mengkonfirmasi kepada para media. Namun yang jelas, hampir seluruh penggemar Sachy yang ada di Indonesia terkejut dan mereka menyatakan kekecewaan mereka.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Idola yang selama ini mereka cintai itu rupanya pecinta sesama jenis.”
                Tep. Nala mematikan televisinya. Dia benar-benar tidak sanggup lagi melihatnya, hampir seluruh infotaiment membicarakan hal itu. Sampai sekarang Nala masih belum percaya kalau ini adalah kenyataan, dia masih syok dan dia gak menyangka bahwa Sachy seperti itu.
                “Aku harus memastikannya. Ya! Langsung kepada orangnya!.”Ujar Nala kepada dirinya sendiri. Tanpa sadar, Nala sudah melanggar prinsipnya sendiri bahwa dia tidak akan mengurusi Sachy meski itu hanya sedikit.
                                                                                                ***
                Sudah 6 hari Nala menunggu kedatangan Sachy, namun yang ditunggu-tunggu itu tidak jua datang. Nala merasa dirinya hampir gila, pikirannya berantakan dan dia tidak bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dia ingin tahu, apa yang dilakukan cowok itu, bagaimana keadaannya sekarang, bagaimana dia menghadapi ini semua. Tanpa sadar, Nala mencemaskannya.
                Sayangnya Nala tidak bisa menemuinya langsung ke tempat tinggalnya, karena Nala tahu disana ada wartawan yang siap siaga. Dan Nala yakin wartawan itu belum lupa tentang skandal yang baru-baru saja terjadi antara dirinya dengan Sachy. Nala takut jika dia muncul, akan tambah memperparah keadaan.
                Pletak. Sebuah benda tiba-tiba meluncur dan mendarat mulus di kepala Nala.
                “Auuwww!!.” Nala reflek berteriak, dia memegangi kepalanya dan meringis kesakitan. Tapi seisi kelas malah tertawa dan tidak peduli dengan kesakitan yang dirasakan Nala.
                “Nala!! Sedang mikirin apa kamu?! Bengong kaya kebo ompong!.” Pak Eko, guru Matematika yang rupanya tadi melempar Nala dengan tutup spidol berteriak marah.
                “Maaf, Pak.” Ujar Nala dengan kepala menunduk.
                “Ucapan maaf kamu saya terima kalau kamu bisa ngerjain soal yang ada di papan tulis ini. Jika tidak, maka kamu harus berdiri di tengah lapangan saat istirahat!!” Ujar Pak Eko dengan galak dan kejamnya. Mulut Nala menganga lebar mendengar ucapan Pak Eko barusan. Tapi Nala tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.
                                                                                                ***
                “Woiii.. SACHY BERANGKAT!!” Tono tiba-tiba berteriak keras kepada seisi kelas yang langsung di sambut dengan kehebohan yang bisa di katakan luar biasa. Semua anak saling berkasak-kusuk, semua sibuk membicarakan Sachy, namun tidak sedang memuji seperti yang mereka lakukan biasanya, kini mereka mencela, menghina, dan merendahkan Sachy. Sejak berita itu datang, semua penggemar Sachy kecewa dan kini tidak sedikit dari mereka yang berubah menjadi anti.
                Nala yang sedang sibuk menulis dan mempersiapkan bahan presentasi nya untuk Tugas Sosiologinya langsung menghentikan aktifitasnya. Dia membiarkan jarinya mematung dengan keadaan menggenggam sebuah Bulpoin. Wajahnya langsung berubah menjadi tegang. Akhirnya dia datang juga.
                Lalu tanpa menunggu banyak waktu, Nala segera beranjak dan melempar begitu saja Bulpoint yang tadi ia pegang. Dia segera berlari keluar kelas. Dengan perasaan menggebu-gebu dia ingin menemui Sachy. Semua ini dia lakukan tanpa dia sadari, tanpa ia pikirkan sebelumnya, tanpa ia rencanakan.
                Langkahnya berhenti tepat setelah dia melihat sosok jangkung itu berjalan berlawanan arah dengannya. Wajahnya tidak ada yang berubah, tubuhnya juga tidak berubah menjadi kurus seperti yang ia bayangkan, dia tampak seperti biasanya. Namun ada yang berubah dalam pandangan Nala. Tentu saja, sosok yang sedang melangkah itu tidak lagi diiringi dengan teriakan, keterpesonaan,   keterkaguman, dan kecintaan penggemarnya. Pagi itu untuk pertama kalinya Nala melihat sosok itu berjalan ditemani dengan pandangan kebencian, kekecewaan, dan perendahan dari seseorang yang dulu menamakan dirinya sebagai Idola Sachy Forever. Sachy seperti manusia pada umumnya, ia sama dengannya.
                Nala terus memandangi Sachy dan melihat sebuah pemandangan yang seharusnya membuatnya bahagia karena inilah yang selama ini diinginkannya, namun dia tidak bisa membantah saat hatinya mengatakan, ‘bahwa dia sedih melihat semua itu’. Sachy menghentikan langkahnya, saat dia lihat Nala menghadang jalannya. Tatapan mereka bertemu. Bukan pertama kali mereka  saling menatap seperti ini tapi ini adalah pertama kalinya Nala menatap bukan dengan tatapan kebencian, melainkan seperti tatapan seorang yang tulus mengatakan, ‘aku ikut bersedih atas musibah yang menimpamu’ dan dalam tatapan itu Nala menjanjikan sebuah hal.
                                                                                                ***
                Nala dan Sachy sedang duduk berdua di bangku tepat di bawah pohon tua yang ada di belakang sekolah, tidak masalah jika ada seseorang yang melihat mereka. Karena sekarang Sachy seperti umumnya siswa SMA Nusa Bangsa, tidak ada lagi yang membedakan antara dirinya dengan anak-anak yang lainnya.
 Selama ini yang membedakan dirinya dengan siswa SMA Nusa Bangsa lainnya adalah dia punya penggemar, karena sekarang dia sudah tidak memiliki penggemar lagi jadi Sachy sudah seperti orang biasa meski dia artis, dia seperti kebanyakan manusia yang lainnya dan jujur saja dia merasa inilah dirinya yang normal.
                “Terus?.” Nala membuka percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan.
                “Apa?.” Sachy malah balik bertanya, tidak mengerti maksud pertanyaan Nala barusan.
                “Apa kau sudah menemukan siapa pelaku yang menyebarkan berita itu?.”
                Hening tiba-tiba menyeruak. Sachy seperti menjadi patung mendadak, dan Nala entah mengapa merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Tidak.” Jawab Sachy akhirnya sambil menundukkan wajahnya. Kening Nala berkerut mendengar jawaban Sachy yang terdengar tidak meyakinkan itu.
                “Apa maksud ‘Tidak’ dalam ucapanmu barusan tadi?” Tanya Nala merasa belum puas. Sachy malah semakin menundukkan wajahnya. Dia terlihat tragis dengan kondisinya saat ini.
                “Tidak akan.”
                “Kenapa?.” Ada keheningan lagi pasca pertanyaan Nala barusan. Nala mencoba menunggu, karena dia yakin ada suatu alasan yang sangat besar tentang kejadian semua ini dan dia ingin mengetahuinya. Sachy menengadahkan wajahnya, kini dengan penuh keberanian dan sorot mata yang tersirat penuh keyakinan, Sachy menjawab :
                “Karena aku yang melakukannya.”
                                                                                                ***
                “Kamu..” Nala masih tidak percaya dengan kata-kata yang barusan ia dengar, setelah menunggu beberapa detik untuk mengatasi keterkejutannya, Nala reflek berkomentar, “GILA”.
                “Bukankah kau yang mengiginkan semua ini? Kamu ingin aku pergi sejauh-jauhnya, namun sayangnya aku tidak bisa pergi dari sini, kamu ingin aku musnah tapi aku belum saatnya mati atau aku tidak mungkin bunuh diri, kamu ingin aku di telan bumi dan itu berarti sama aja dengan aku mati, jawabannya sama seperti yang tadi, itu tidak akan terjadi jika aku belum saatnya mati, dan keinginanmu yang lain adalah aku hancur, dan ini adalah satu-satunya hal yang bisa aku penuhi.”
                Nala terkejut lagi mendengar penjelasan Sachy dan kenyataan bahwa Sachy..benar-benar melakukan apa yang diucapkannya padahal itu dia katakan saat dia sedang emosi dalam arti dia tidak benar-benar serius.
                Sachy tersenyum melihat ekspresi keterkejutan dan sirat rasa penyesalan dari wajah Nala.
                “Apa kamu menyesal mengucapkan hal itu?.” Tanya Sachy lembut. Nala masih terkejut sehingga dia masih sulit mengeluarkan suara, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Sachy, dia tidak menyangka Sachy adalah orang yang benar-benar NEKAT.
                “Bagaimana kalau rasa menyesalmu itu ditukar dengan ucapan memaafkan?.” Tanya Sachy lagi setelah dia menunggu Nala yang tidak juga membuka suara.
                Nala menatap Sachy penuh arti. Bukan! Bukan berarti dia ingin memaafkan Sachy, tapi justru dia lah yang ingin meminta maaf pada Sachy. Ya! Sachy tidak pernah menghancurkan hidupnya tapi kenapa dia menghancurkan hidup Sachy?Nala merasa dirinya sudah keterlaluan.
                “Apa kau mau memaafkanku, Putri Naila?.” Untuk kesekian kalinya Sachy tidak pernah bosan mengatakan hal itu.
                “Dengan satu syarat!.” Akhirnya Nala membuka suaranya. Sekilas ada ekspresi ke legaan dari wajah Sachy, di dalam hatinya dia berjanji akan melakukan apa saja demi syarat itu.
                Sachy menunggu Nala menyelesaikan kalimatnya, dia berharap syarat itu tidaklah terlalu sulit baginya.
                “Kau harus menjadi laki-laki normal.”
                                                                                                ***

Sachy_Series : Sudah ku duga Nala pasti menyebutku "GILA" atas apa yang aku lakukan. Ya ! Siapa yang tidak menyebutku gila, aku yang membuat kehancuran untuk diriku sendiri. Tapi sebenarnya aku tidak merasa diriku hancur. Bahkan aku merasa aku telah melakukan sesuatu yang benar. Aneh kan....? Dan lebih anehnya lagi aku justru bahagia. Putri Naila mau berbicara denganku malah menawarkan diri untuk membantuku. Itulah sebabnya kenapa aku menyebut apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang benar...
Dan hemm.. sebenarnya aku bukan seorang homo, dulu tepatnya waktu aku masih berada di Korea aku mengaggumi seorang laki-laki yang sudah ku anggap kakak, aku hanya berteman dan hanya mau bersamanya. Karena kawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, orang tuaku memaksaku untuk pindah ke Indonesia. Dan sebenarnya apa yang akan aku lakukan ini sudah aku beritahukan sebelumnya pada orang tuaku, sudah kuceritakan semuanya pada mereka dan syukurnya mereka mengerti.. hanya...(aku tertawa) aku merasa bersalah dengan Tere karena aku tidak memberitahukan padanya lagian dia pasti tidak akan pernah mengizinkannya, dan sekarang dia sedang sakit atau lebih tepatnya memaksakan dirinya untuk sakit. Hem.. nanti saja deh aku minta maaf padanya... hehe

Sabtu, 18 Agustus 2012

Utang Cimol Part 6

di 08.47 0 komentar
               
 Sachy masih duduk berlutut di hadapan Nala. Membuat Nala bingung harus melakukan apa. Apakah dia akan pergi begitu saja seolah tidak peduli atau dia menenangkan Sachy dan mengatakan ‘cup..cup...diam yah cowok manis.’ Nala tidak sadar bahwa dia sempat berfikiran Sachy cowok manis. Abis Sachy yang sekarang ia lihat benar-benar berbeda dengan Sachy yang biasa dia lihat baik di televisi ataupun di sekolah. Sachy menangis dengan wajah yang terlihat manis bukan wajah mewek yang jelek.
                “Apa sih yang kamu lakukan Sachy? Bangun ah..kamu gak malu apa kalau di lihat orang?.”Kata Nala membujuk Sachy untuk segera bangun dan secara gak langsung ingin mendiamkan tangis Sachy.
                Lalu Nala mengulurkan sapu tangannya yang sungguh tidak di sangka Sachy. Sachy mendongakan kepalanya dan wajahnya terlihat sekali tidak percaya bahwa Nala barusan melakukan hal seperti itu.
                “Aku memang tidak menyukaimu, tapi aku sama sekali gak menyangka kalau kamu ternyata cengeng sekali. Bahkan aku sebagai perempuan malu melihatnya. Ini cepat ambil..dan bersihkan air matamu.” Nala berkata dengan judesnya yang tidak ketinggalan. Sachy menerima sapu tangannya dan dia membalikkan badannya. Sedetik kemudian terdengar suara semprotan yang berasal dari hidung. Nala tersenyum simpul.
                “Gak perlu di balikin.” Ucap Nala kemudian setelah Sachy selesai membersihkan bekas tangisnya. Tentu saja Nala tidak akan menerima sapu tangannya setelah dia tahu bekas apa sapu tangannya itu. Sachy hanya diam, dia memandangi sapu tangan yang telah basah itu dan mengerti maksud­­ ucapan Nala.
                                                                                                ***
                “Aku benar-benar gak tahu kalau kejadiannya sampai seperti ini. Aku...” Sachy dan Nala kini sedang berada di tempat penjual Es kelapa muda. Mereka sedang menikmati Es Kelapa Muda bersama-sama meski pun jarak tempat duduk mereka berjauhan. Sachy memegang bungkusan Es Kelapa muda itu dengan tangan gemetar dan Nala melihatnya.
                “Aku..minta maaf.” Lanjut Sachy lirih dengan kepala menunduk. Terlihat sekali dari ucapannya penuh nada penyesalan dan penyesalan itu sungguh dalam.
                “Jangan ke aku.” Jawab Nala singkat.
                “Lalu ke siapa? Sally sudah ti...”
                “Aku gak peduli. Yang jelas kamu gak perlu minta maaf ke aku. Aku gak butuh.” Nala mencoba mengatur nada bicaranya agar terlihat biasa, dia mengalihkan pandangannya ke ramainya kendaraan yang berlalu lalang di depan mereka.
                “Aku harus bagaimana..? Apa yang harus aku lakukan agar kau dan Sally memaafkanku? Ini sungguh menyakitkan dan membuatku menderita.” Sachy meremas bungkusan Es nya yang telah habis. Dia bahkan tidak merasa dinginnya Es batu yang dia pegang, baginya beban rasa bersalah ini membuat tubuhnya mati rasa.
                “Andai saja Sally tidak terlalu menyukaimu..andai saja saat itu Sally tidak mengejar mobilmu..”Nala menggumam pelan, dia berbicara tidak sambil menatap Sachy. Dia juga tidak tahu kenapa dia mengatakan tidak bisa memaafkan Sachy. Dia tidak tahu alasan apa yang membuat hatinya sulit mengikhlaskan ini semua. Sally telah lama pergi dan seharusnya dia bisa melupakan semua perasaan marahnya.
                                                                                                ***
                “Sachy!! Apa yang habis kamu lakukan! Abis kemana kamu?! Apa kamu tidak tahu kami semuanya cemas mencarimu!.” Tere berteriak marah tapi dia juga lega karena Sachy sudah kembali ke Rumah Sakit. Sachy tadi kabur dan melepas semua infusnya, membuat seisi Rumah Sakit heboh mencarinya.
                “Tere..kau tahu? Kejadian ini terjadi karena kesalahanmu.” Ujar Sachy dingin sembari berlalu begitu saja. Dia langsung duduk di tempat tidurnya dan memasang Infusnya sendiri. Sachy tampak begitu lemas. Dia menyenderkan kepalanya dan menghela nafas berat.
                Tere melihat itu dengan kening berkerut. “Apa maksudmu?.” Tanya Tere tidak mengerti maksud ucapan Sachy barusan.
                “Sudahlah lupakan.” Sachy tampak tak ingin berkata-kata lagi. Dia memejamkan matanya. Berharap bisa melupakan semua ini meski hanya sedetik. Namun pikirannya kembali mengembara pada sebuah masa lalu yang dia sadari bahwa masa lalu itu hampir saja ia lupakan.
                                                                                                ***
                “Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?.” Tanya Sachy panik kepada Tere yang baru saja tiba dari Rumah Sakit.
                “Hm..dia koma.” Jawab Tere santai. Tere lalu duduk dan mengangkat kakinya ke atas meja seolah dia tampak begitu santai dengan kejadian hari ini padahal Sachy hampir saja pingsan karena cemas.
                “Apa?!! Dia koma?!.” Sachy kaget setengah mati, dia membelakkan matanya. Jantungnya seolah akan loncat ke lantai.
                “Sudahlah. Toh ini juga bukan sepenuhnya kesalahanmu. Jangan kau anggap serius.” Ujar Tere lagi menenangkan Sachy. Namun Sachy tak bisa langsung menurut begitu saja, dia duduk di sebelah Tere dan menatap Tere penuh dengan tatapan kekawatiran.
                “Bagaimana mungkin kau mengatakan seperti itu. Dia terserempet mobil karena..”
                “Orang tuanya minta 100 Juta. Dan itu mereka katakan langsung saat aku baru datang.” Tere memotong pembicaraan Sachy begitu saja. Membuat Sachy memicingkan matanya, dia berupaya mencerna maksud ucapan Tere.
                “Jaman sekarang banyak orang mencari kesempatan. Mereka tidak memikirkan apakah itu baik atau tidak. Atau ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk mengambil kesempatan. Aku lupa bunyi pepatahnya, apa kau pernah dengar?.”
                “Maksudmu..mereka memanfaatkanku?.” Sachy tampak sedikit menangkap ucapan Tere. Meskipun dia tidak sepenuhnya yakin.
                “Aha! Ada udang di balik batu. Itu bunyi pepatahnya Sachy!.” Tere tersenyum senang karena dia berhasil mengingat ucapan pepatah yang tadi benar-benar dia lupa.Namun Sachy tampak tidak merespon bunyi pepatah itu, dia menunggu jawaban Tere atas pertanyaannya tadi.
                Tere melengos, sebal juga karena tidak di respon. Tere memegang pundak Sachy yang dia lihat wajah Sachy masih tampak belum puas.
                “Sudah ku katakan, tidak perlu kau anggap serius. Mereka saja tidak menganggap serius. Lagian ini bukan sepenuhnya salahmu Sachy, percaya padaku!.”
                Sebenarnya kalimat terakhir Tere itu membuat Sachy sedikit tenang. Entah mengapa dia percaya padanya 100%.
                                                                                                ***
                Bel tanda pulang telah berbunyi. Semua siswa dan siswi bersorak gembira. Mereka tampak lega karena waktu yang dinanti-nantikan telah tiba. Berbondong-bondong mereka menyerbu pintu kelas, berharap semakin cepat mereka keluar semakin baik.
                Tapi Nala hanya bertingkah biasa, dia tampak santai merapikan bukunya dan dia orang yang berjalan keluar kelas paling terakhir. Sembari berjalan santai, Nala tampak melihat-lihat sekeliling. ‘Dia belum berangkat’. Gumamnya pelan. Sebenarnya akhir-akhir ini Nala tampak sibuk memikirkan Sachy, bukan karena dia mulai menyukainya tapi karena dia ingin mencoba memaafkannya. Ya! mencoba ! meskipun dia tidak tahu apa itu berhasil atau tidak.
                “Saudari Nala?.” Entah tidak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba ada seseorang menghadang jalan Nala. Nala sempat terkejut karena dia tidak mengenal orang itu. Seorang laki-laki berpakaian jas hitam dan memakai kaca mata.
                “Benar. Anda siapa yah?.” Tanya Nala diam-diam curiga.
                Orang itu membuka kacamatanya, dan dia menatap Nala dengan ekspresi datar. Dia tidak tahu bahwa Nala ternyata langsung mengenalinya.
                “Saya Tere, Manajer Sachy.” Ujar orang itu mengenalkan diri. “Bisa kita bicara sebentar?.” Pinta Tere. Sejenak Nala ragu, dia memegangi ujung bajunya. Bukan takut tapi dia sedang mengendalikan emosinya.
                “Baik, mau dimana?.”
                                                                                                ***
                “Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Sachy?.” Ujar Tere langsung membuka inti persoalan yang ingin dia bicarakan. Mereka sedang duduk di sebuah Caffe yang tidak jauh dari sekolah.
                “Kenapa kau tanyakan padaku?. Aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya.” Ujar Nala berusaha terdengar biasa, Kecuali di masa lalu. Namun itu juga hanya sedikit. Lanjutnya di dalam hati.
                “Apa kau kira aku bodoh? Apa kau kira aku tidak tahu perubahan Sachy akhir-akhir ini? Dia seperti itu adalah karena dirimu, apa kau masih mau mengelak?.” Tere tampak mulai emosi.
                “Apa?” Nala tertawa sinis. Dia sudah tidak yakin apakah dia bisa mengendalikan emosinya. Tere yang dia lihat sekarang belum berubah dengan Tere yang dia lihat di Rumah Sakit setahun yang lalu. “Kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada Sachy? Aku sama sekali tidak mau ada urusan dengan dia, apapun yang terjadi dengannya aku tidak peduli!.” Nala juga menaikan intonasi nadanya.
                “Kau!.” Tere menggebrak meja, tampaknya Tere benar-benar marah. “Kau dan juga temanmu sama saja! Kalian hanya mau memanfaatkan kesempatan! Dasar manusia-manusia naif!.” Tere sudah tidak bisa mengendalikan ucapannya, dia tidak sadar Nala hampir saja menendang meja ke arah mukanya.
                Nala mengepalkan tangannya. Sudah cukup! Dia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Apalagi tadi Tere menyebut-nyebut tentang Sally..itu sungguh tidak bisa dimaafkan!.
                “Hei! Jaga cara bicara anda!. Apa yang anda katakan barusan, tolong tarik kembali. Aku tidak terima jika anda mengatakan temanku hanya ingin mengambil kesempatan!. Kita sama sekali tidak ada minat memanfaatkan Sachy! Camkan itu!.” Nala berteriak marah. Hampir seisi Caffe melihat kearahnya. Lalu dengan cepat Nala menendang kaki Tere, dengan seribu kemarahannya dia meluapkan satu ucapan lagi ke arah Tere, “Dasar! Bujang lapuk!.”
                Dan Tere hanya terpaku. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukan Nala barusan terlebih lagi dengan ucapan terakhir Nala. Tere bersumpah, dia tidak akan membiarkan kejadian ini berlalu begitu saja. Pasti suatu saat dia akan membalasnya!
                                                                                                ***
                “Dasar Bujang Lapuk, gak laku, kaduluarsa! Berani-beraninya dia mengatakan hal seperti itu terlebih lagi untuk Sally! Aku benar-benar gak bisa memaafkannya! Hah..kenapa aku harus berurusan dengan mereka?!.” Sepanjang jalan Nala tampak terus menggerutu. Pikirannya benar-benar kacau dan dia menangis karena emosinya tadi tidak sepenuhnya keluar. Dia masih ingin marah, dia masih ingin mengamuk atau kalau perlu dia jadikan Tere seperti singkong rebus! Ingin dia remes dengan tangannya sampai hancur!.
                “Nala!.” Tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Mau-tidak-mau Nala terpaksa menoleh.
                “Kamu..nangis yah?.” Tanya orang itu kawatir setelah dia berlari ke arah Nala dan melihat wajah Nala dari dekat. Nala hanya memandangnya dengan penuh keterpakuan karena orang yang ada di depannya ini...
                “Kenapa kamu terus-terusan muncul di hadapanku sih?! Sudah kubilang kan jangan muncul di hadapanku! Aku benci sekali denganmu, aku ingin kamu pergi sejauh-jauhnya..!Aku ingin kamu musnah, aku ingin kamu hancur, aku ingin kamu di telan bumi!!.” Nala berteriak keras, memuntahkan semua emosinya yang tadi belum tuntas. Tangisannya belum berhenti namun hatinya sudah sedikit lega. Emosi yang tadi telah dikeluarkannya membuat tekanan emosi di dalam tubuhnya berkurang. Nala tidak sadar orang yang berdiri di depannya menatapnya tidak bergerak. Bahkan orang itu terpaku seperti patung.
                Tapi Nala tidak peduli. Dia lalu membalikkan badannya lagi, sama sekali tidak peduli dengan kondisi orang yang tadi sudah menjadi pelampiasan kemarahannya.
                                                                                                ***
                Sepanjang perjalanan ke kelas, Nala tidak habis-habisnya mendengar orang-orang membicarakan tentang Sachy. Tampaknya ada sesuatu yang sangat menghebohkan terjadi dengan Sachy. Seisi sekolah tampak gempar dengan sesuatu yang menghebohkan itu.
                Tapi Nala sama sekali tidak peduli. Sejak kejadian 3 hari yang lalu, Nala sudah berprinsip tidak akan mengurusi Sachy lagi, meski itu hanya sedikit. Baginya Sachy sudah seperti asap yang terbang dan tidak terlihat lagi. Tidak ada gunanya sama sekali dia mengurusi Sachy.
                Sesampainya di kelas, Nala sungguh terkejut dengan keadaan yang terjadi di kelasnya. Semua teman cewek-ceweknya menangis dan ada yang berteriak histeris. Wajah terkejut, syok, dan tidak menyangka terlukis jelas di wajah teman-teman cowoknya.
                “Ada apa sih dengan kalian semua?.” Tanya Nala bingung kepada teman-temannya. Teman-temannya tidak meresponnya, mereka seperti kehilangan setengah kesadaran mereka. Nala lalu melihat Ipad temannya tergeletak begitu saja di atas meja. Setengah sadar, Nala mengambil Ipad itu yang rupanya sedang di gunakan untuk membuka sebuah situs di internet.
                Awalnya Nala melihat situs itu dengan cuek bahkan sama sekali tidak tertarik, namun saat dia mulai membaca judul di situs itu, mata Nala segera terbuka lebar. Bahkan Nala sudah tidak ingat lagi apakah dia membacanya sambil bernafas, karena jantungnya seperti terloncat keluar. Nala benar-benar terkejut. Dia tidak sadar bahwa mulutnya terbuka sangat lebar.
                “AKTOR SACHY SALDEVHES ADALAH SEORANG HOMO.” Nala tidak sanggup lagi membacanya, tiba-tiba pandangannya berubah menjadi gelap. Nala terjatuh.
                                                                                                ***

Nala_Series : Eh?! Itu gak bener kan yaaaa?!!! Sachy ga mungkin kaya gitu ! Aku gak percaya ! Pokoknya aku gak percaya !! 

Jumat, 17 Agustus 2012

Utang Cimol Part 5

di 05.47 0 komentar
15 Mei 2011...
   Dyari, ini adalah pertama kalinya aku masuk sekolah. Sekolah baruku yang bernama SMA Nusa Bangsa. Sekolah impianku dan aku senang karena aku bisa masuk kesana karena beasiswa. Spt yang kau tahu Dyari...sebenarnya ini bukan Cuma impianku saja tapi ini juga harapan Ayah...Dan sekali lagi ini berkat aku bertemu dengan takdir...Aku tidak menyangka ini benar-benar terjadi, Tuhan telah menggantinya Dyari.. kau percaya Tuhan tidak akan mengutang janji..dia pasti akan menepatinya...

16 Mei 2011               

Dyari..aku malu dan aku merasa tidak percaya diri. Aku merasa paling rendah disini, semua orang disana menatapku dengan pandangan aneh, mereka pasti berfikiran aku salah masuk sekolah alias kesasar. Bagaimana ini...? Belum apa-apa aku merasa akan datang hari yang berat disini...

17 Mei 2011               

Masa ospek sungguh melelahkan Dyari!!. Aku lelah sekali...apalagi kakak pembinanya yang sungguh menyebalkan! Huaaahh...aku ingin hari berjalan cepat saja.

18 Mei 2011             

Tidak ada yang berkesan Dyari! Pulang-pulang tubuhku seperti kehilangan tulang-tulangku. Aku benar-benar lelah..dan yang ingin aku lakukan adalah tidur!.

19 Mei 2011               

Ada yang minta kenalan denganku Dyari..Dia seorang gadis, lucu, baik, tapi cerewetnya minta ampun! Tapi sayang...aku belum bisa membuka diriku kepada orang lain. Aku masih menutup diriku seperti 5 bulan yang lalu. Sejak saat itu hingga sekarang aku masih merasa bukan manusia..kenapa? karena kebahagianku telah hilang separuh...mana ada manusia yang hidup dengan separuh kebahagian yang pergi? Meski hidup tapi setengah jiwaku telah matii...

20 Mei 2011               

Aku merasa sendiri.. Dyari, aku kira aku telah bersahabat dengan kesendirian. Tapi ternyata..aku masih tidak menyukai kesendirian. Aku ingin kesendirian itu pergi dariku..tapi bagaimana caranya?.

29 Mei 2011               

Sudah lama aku tidak menulis Dyari.. maafkan aku Dyari, akhir-akhir ini aku begitu sibuk sampai rasanya aku sudah tidak kuat melakukan apa-apa meski itu hanya menulis. Hm Dyari...apa aku sudah menceritakan tentang seorang gadis yang ingin berkenalan denganku?Dia begitu ingin berteman denganku. Seolah tak ada habis dan bosennya dia mendekatiku. Namanya Selly, dan apakah kau tahu Dyari....? Rupanya dia Yatim Piatu. Oh God...takdirnya lebih menyakitkan dibanding dengan takdirku...

31 Mei 2011               

Selama ini aku selalu merasa aku manusia yang mempunyai takdir paling buruk di dunia ini. Kak Aga dan Ayah....mereka pergi begitu saja dipaksa takdir dan tidak akan pernah kembali. Sejak saat itu mentari seolah tak pernah bersinar di depan mataku, yang ada hanyalah awan kelabu dan udara kesedihan yang akan membawa hujan penderitaan.                Tapi Selly...dia ternyata tak punya Ayah dan Ibu lagi, bahkan dia tidak memiliki keluarga karena dia dipungut. Tuhan...aku merasa malu, karena kulihat mentari masih bersinar di matanya, dan hujan penderitaan telah memunculkan pelangi kebahagian dalam hidupnya...Aku ingin sepertinya....tidak! aku ingin merasakan apa yang dia rasakan....aku ingin percaya bahwa kehilangan tidak selamanya menyakitkan...

1 Juni 2011               

Banyak hal yang kutemukan di dalam diri seorang Sally. Aku sungguh kagum padanya. Dia menikmati semua yang Tuhan kasih padanya. Bahkan dia merasa bahwa apa yang Tuhan kasih adalah sesuatu yang sangat berlebihan baginya dalam arti kebaikan Tuhan yang dikasih padanya sangatlah banyak sehingga dia merasa tidak pantas untuk mendapatkannya.Aku banyak mendapatkan nasihat darinya dan jujur saja...aku merasa hatiku seperti disiram mata air embun yang sangat sejuk...Aku merasa inilah ketenangan yang sangat kudamba. Sudah lama aku menghayal mempunyai teman sepertinya...

5 Juni 2011               

Baru awal masuk saja Tugasnya sudah banyak! PR nya menumpuk! Huft...maaf Dyari, dari kemarin aku absen, maklum saja PR yang seabrek membuatku mau-gak mau harus lembur sampai malam.Tapi hari ini aku bahagia karena ini tanggal persahabatan antara aku dan Selly...ya! kami membuat janji dan menggoresnya di pohon belakang sekolah. Kita berjanji bahwa apapun yang terjadi kita adalah sahabat.. Aku dan Selly selamanya...

7 Juni 2011               

Terimakasih Tuhan...akhirnya Ibu sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Meski hanya sebagai tukang cuci di tempat Loundry, bagiku itu lebih bagus dibanding Ibu harus menjadi tukang sayur keliling. Kasihan Ibu jika harus mengayuh sepeda di tengah teriknya matahari... Sebenarnya aku ingin sekali membantu Ibu, bahkan jika aku melihat Ibu bekerja ingin rasanya aku membuang tas dan segera berlari menuju Ibu. Aku ingin bekerja dan aku ingin Ibu tetap dirumah saja. Tapi Ibu marah sekali padaku jika aku berfikiran seperti itu. Justru Ibu akan sakit jika aku malas belajar dan tidak serius sekolah.. Hm...mau tidak mau cara satu-satunya adalah aku harus serius belajar. Dengan begitu aku bisa membantu Ibu banyak...I promise Mam... I do the best...Next time I will you happy..

8 Juni 2012               

Ada yang bikin heboh! Satu sekolah geger minta ampun karena hari ini ada murid baruu..Aku tidak tahu seperti apa murid baru itu dan jujur saja aku tidak penasaran. Aku tidak menyukai sesuatu yang berlebihan dan melihat kondisi tadi...benar-benar membuatku ingin muntah.Semua cewek menjerit-jerit, belum seisi kelas yang berisik seperti anak itik baru lahir..mereka membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak penting.“Cakep sekali...kerennya..dia berasal dari Korea...” Hah! Bagiku mau dia berasal dari Korea, Jerman, Amerika, Kutub Utara sekalipun...seharusnya mereka bersikap biasa saja. Jiah! Kenapa juga aku harus marah...!Hm..ini kan bukan urusanku. Ok.. Nala kembali fokus, buatt apaa kamu membicarakan hal gak penting seperti itu kepada Dyari..Dyarii maafkan aku..

10 Juni 2012               

Aku sudah berjanji tidak akan membicarakan si anak murid baru itu...tapi ada hal penting yang harus kusampaikan padamu  Dyarii... Kenapa?? Ok! Aku sudah bilang ini sangat penting!
                Rupanya Sally menyukai anak baru itu! Oh My God..aku benar-benar kaget saat Sally mengatakan bahwa dia jatuh cinta saat pandangan pertama...  Aku harus bagaimana? Bahkan sahabatku juga ikut-ikutan seperti mereka..

11 Juni 2012               

Aku sudah melihat wajah si anak baru itu, yah! Bagiku biasa aja..masih banyak yang lebih cakep daripada dia, meski aku membenarkan wajahnya itu mirip seperti personel SUJU, aku tetap mengatakan dia biasa saja! Seharusnya semua orang tidak terlalu menghebohkannya, benar kan Dyarii?Tapi sayangnya Sally semakin jatuh cinta padanya... Oyah Dyari,, hari ini Ibu sudah dapat gaji loh..aku senang deh, akhirnya penderitaan kita semakin lama semakin berkurang. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa merasakan Soto buatan Ibu..Meski saat menelan Sotonya aku juga merasa menelan sakit, karena tiba-tiba aku ke ingat Ayah dan Kak Aga..oh Tuhan, sedang apa yah mereka?

15 Juni 2012               

Dyarii..hari ini ada kejadian mengerikan.. Sally...Sally....dia masuk rumah sakit..                Bagaimana iniii..bahkan tanganku masih gemetar ketika menulis ini.. Sally di serempet mobil...dan itu karena diaa...

16 Juni 2012               

Sally masih belum sadarkan diri. Tuhan..tolong bangunkan diaa..rasanya detik yang terus berjalan seperti jarum yang menusuk-nusuk diriku,jantungku, hatiku, otakku seluruh tubuhku!. Aku ingin Sally membuka mata, andaikan saja...Tidak! Sally pasti akan bangun lagi..Ku mohon...

17 Juni 2012               

Dengan tenangnya dia datang dan sekilas melihat kondisi Sally.Lalu setelah itu asistennya mengatakan bahwa itu semua murni kesalahan Sally. Polisi pun juga mengatakan hal yang sama. Tidak butuh waktu lama dia pamit pulang. Tidak ada ucapan maaf apalagi ucapan semoga lekas sembuh..Mataku panas,, hatiku seperti hangus terbakar. Mana mungkin dia dengan tenangnya melakukan semua itu?
                Jelas-jelas aku melihatnya...Sally diserempet karena Sally berusaha mengejar mobilnya..yang saat itu aku bersumpah dia melihat Sally...lalu kenapa dia tidak menghentikan mobilnya?? Dan dia membiarkan saja Sally jatuh terkapar dengan kepala bersimbah darah..Aku bersumpah...jika sesuatu yang lebih buruk menimpa Sally, maka aku tidak akan pernah memaafkannya..

18 Juni 2012               

Aku senang! Akhirnya Sally membuka mata! Tapi kau tahu Dyari..apa yang dia katakan setelah dia bangun dari komanya?  “Nala...aku bermimpi Sachy menemuiku. Apakah itu benar?”  Rasanya jantungku mau berhenti berdetak. Bagaimana mungkin Sally sempat-sempatnya bertanya hal itu dan dia..masih saja mengingat Sachy, Sachy, dan Sachy!. Aku marah padanya..ku pergi begitu saja..dan aku tidak peduli dengan Sally yang terus berteriak memanggilku. Aku tidak peduli lagi..

20 Juni 2012               

Meskipun aku marah..aku tetap tidak bisa membenci Sally. Lalu aku memutuskan untuk pergi menjenguknya. Dia begitu bahagia..sampai-sampai dia merentangkan tangannya selebar-lebarnya untuk memelukku..Lalu dia minta maaf padaku atas kejadian kemarin. Aku katakan padanya bahwa aku sudah tidak apa-apa hanya saja aku merasa bahwa seharusnya dia tidak perlu begitu menyukai seorang Sachy. Dengan lembut dia berkata padaku, “Nala..kau belum merasakan apa itu jatuh cinta. Saat kau merasakannya, aku jamin dunia yang indah inipun kalah olehnya..dan tiap nafas yang keluar dari hidungmu selalu dipenuhi oleh bayang-bayangnya..” Saat itu yang aku pikirkan adalah...Sally sungguh lebay! 

22 Juni 2012..               

Sally sudah pulang dari rumah sakit. Aku bahagia sekali.. rasanya aku sudah tenang sekarang. Sally sudah benar-benar sembuh. Dia terlihat ceria meskipun 7 hari di rumah sakit telah membuatnya terlihat sangat kurus.. Tapi aku lega...akhirnya kejadian yang kutakutkan benar-benar tidak terjadi..

25 Juni 2012               

Dyari..Tiba-tiba Sally pingsan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya pingsan. Dia masuk ke ruang ICU.. Oh Tuhan.. apa yang sedang terjadi? Apa lagi ini? 

26 Juni 2012               

Sembuhkan Sally Tuhan...                
Sembuhkan Sally Tuhan...                
Sembuhkan Sally Tuhan...                
Hanya satu yang kupinta saat ini...                
Sembuhkan Sally Tuhan..
                                                                                                ***
                Sebenarnya masih banyak lembaran yang perlu dibaca, namun tangan seseorang itu bergerak cepat melewati lembaran demi lembaran seolah tak ada lagi kesabaran di dalam dirinya dan dia berhenti tepat di akhir sebuah lembaran yang mana sudah tidak ada lagi tulisan setelah lembaran itu.
                DEG!
                Jantungnya seperti dihantam palu sekeras-kerasnya, dan nafasnya seperti berhenti mendadak. Tangannya gemetar dan tiba-tiba saja air menyeruak di bola matanya membuat matanya seperti terbakar..sangat panas dan sakit.
                Orang itu menatap tulisan terakhir di lembaran terakhir itu dengan nafas tercekik. Dia merasa ada yang menghantam tubuhnya. Membuatnya tak mampu bergerak, meski dia ingin menutup buku itu. Dia tak mampu...tangannya roboh, dan buku itu jatuh terhempas ke lantai.
                Meski pun tulisan itu sudah hilang dari pandangan matanya, tapi dia merasa tulisan itu kini sedang berdiri di depannya. Mencabik-cabik tubuhnya hingga dia merasa lebih baik mati.
                1 Juli 2012
                Sally telah pergi...
                                                                                                ***
                “Kau tahu ada berita menghebohkan!.”
                “Apa?.”
                “Tadi aku lihat di Infotaiment, Sachy masuk rumah sakit!.”
                “Apaa?!! Kenapa? Dia sakit apa?.”
                “Katanya sih..overdosis!.”
                “Hah?! Maksudmu...Sachy adalah pem..a..kai..narkoba!.”
                “Tentu saja tidak!! Dia overdosis obat penenang! Aku tidak tahu kenapa dia bisa meminum obat penenang sampai overdosis seperti itu, tapi yang jelas aku yakin pasti ada suatu masalah berat menimpanya!.”
                                                                                                ***
                Meski sekolah berjalan seperti biasa, namun semua penghuninya sudah mengetahui tentang keadaan Sachy yang sebenarnya. Tidak ada satupun yang menyangka Sachy tidak masuk sekolah karena dia masuk rumah sakit. Semua orang tampak penasaran apa yang menyebabkan Sachy harus menelan obat penenang sebanyak itu sehingga membuatnya overdosis.
                Kecuali Nala, meskipun awalnya dia tampak terkejut mendengar berita itu tapi sedetik kemudian dia sudah kembali normal. Dia sangat tahu apa yang menyebabkan Sachy harus menelan obat penenang. Tentu saja, pasti karena buku Dyari itu.
                                                                                                ***
                “Ambil ini!.” Nala menyerahkan sebuah buku bersampul coklat kepada Sachy yang halamannya sangat sedikit karena sudah banyak lembaran yang telah ia sobek.
                “Ap..apa ini?.”Sachy menerimanya dengan tangan gemetar.
                “Ini adalah buku Dyariku. Aku tidak bisa menceritakan semuanya kepadamu secara langsung. Tapi aku jamin kau akan mendapatkan jawaban di dalam buku itu.”Ucap Nala datar. Meskipun dia ragu untuk melakukan ini, tapi dia pikir yang dia lakukan adalah benar. Sudah saatnya Sachy mengetahui hal yang sebenarnya.
                                                                                                ***
                Nala berjalan gontai ke tempat parkiran sepedanya. Entah mengapa hari ini dia tidak memiliki semangat sama sekali. Rasanya ada yang aneh dalam dirinya. Dia tahu Sachy masuk rumah sakit bukan kesalahannya, tapi entah mengapa dia merasa hatinya tidak tenang.
                “Kenapa sih denganku?!. Kenapa aku harus tidak tenang seperti ini?.” Gerutu Nala pada dirinya sendiri.
                Tiba-tiba ada sebuah mobil datang dan berhenti di depannya. Nala sedikit terkejut, tapi sedikit terkejutnya itu langsung berubah menjadi banyak. Ya! Dia melihat Sachy tiba-tiba keluar dari mobil itu dan kini berdiri di depannya.
                Nala tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia menatap penuh bingung ke arah Sachy yang wajahnya terlihat sekali sangat pucat. Nala bahkan mengucek-ngucek matanya, dia ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa ini tidak kenyataan alias dia hanya berimajinasi saja.
                Tapi tiba-tiba..
                Bug!
                Sachy menjatuhkan dirinya sendiri. Dan dia berlutut di depan Nala. Melihat apa yang dilakukan Sachy membuat Nala semakin tidak menyangka bahwa rupanya ini bukan imajinasinya.                “Aaa..pa yang ka..mu laku..kan?.” Nala bahkan tampak kesusahan mengeluarkan suaranya saking terkejutnya dia melihat Sachy melakukan hal yang sangat memalukan ini.
                Sachy mendongakan kepalanya dan dia menatap Nala. Tidak berapa lama kemudian ada air keluar dari matanya dan dia membiarkan Nala melihatnya. Semakin lama air yang keluar dari matanya semakin banyak dan membasahi bibirnya yang kering.
                “Bantu aku...” Bahkan suara yang keluar dari bibir Sachy terdengar sungguh menyedihkan. Sachy benar-benar terpuruk sekarang bahkan kondisinya lebih parah dibanding dengan apa yang diberitakan Infotaiment tadi pagi.
                “Kasih tahu aku, apa yang harus aku lakukan?.” Ucap Sachy memohon. Dia memeluk buku Dyari itu dengan erat. Dan tanpa perlu Sachy berkata apa-apa lagi, Nala sudah mengerti apa maksud ucapannya.
                                                                                                ***
               
`                                                                              
                

Kamis, 16 Agustus 2012

Utang Cimol Part 4

di 04.59 0 komentar



“Itu tidak mungkin karena aku begitu membencinya”
                Entah sudah berapa lama barisan kalimat itu berjalan di benak Sachy seperti papan nama yang bergerak dengan kalimat sama dan berulang-ulang. Namun perbedaannya adalah jika pada papan nama kalimatnya hanya sebuah barisan kata tapi kalimat yang terus mengisi kepalanya hingga membuatnya serasa akan meledak itu mengeluarkan suara dan terus berdengung-dengung di telinganya.
                Arggtttt. Sachy berteriak sekeras-kerasnya, hingga gema suaranya memantul di paflon dan sudut-sudut dinding kamarnya yang dingin karena kesan warna abu-abu yang mendominasi tiap nafas di dalam ruangnya.
                Sachy menatap wajahnya di pantulan cermin besar, tangannya mengepal meja cermin dan tangan satunya dia tekan sekuat-kuatnya pada dinding yang ada di samping cermin. Kepada cermin yang bisu, Sachy bertanya seolah dia akan mati tercekik rasa penasaran, “Kenapa?” Sebuah tanda tanya besar menggantung menandakan bahwa dia butuh alasan. Ya alasan! Tatapan mata tajam itu, kebencian yang tersirat di balik semua tatapannya, ucapannya, di balik semua itu pasti ada alasannya! Alasan itu akan sangat berguna untuk menjawab pertanyaan sekaligus menghilangkan rasa penasarannya.
                “Apa salahku?”
                                                                                                ***
                “Hari ini apa schedule-ku?”Sachy bertanya kepada Tere yang sedang duduk santai didepan balkon apartemennya sambil menyeruput secangkir teh yang tadi dibuatnya sendiri. Apartemen Sachy memang seperti rumah ke dua bagi Tere, begitupun sebaliknya rumah Tere adalah tempat pelarian nomor satu bagi Sachy. Jika dia sedang suntuk, banyak masalah, ataupun kelelahan rumah Tere yang penuh dengan kesan alami dan berhawa pegunungan adalah tempat yang sangat tepat untuk menghilangkan semua aura negatif yang ada di dalam tubuhnya.
                “Hm...” Tere mengeceknya lewat Ipad yang khusus untuk menulis schedule Sachy dari pagi hingga malam, dari hari senin sampai minggu, dan dari tanggal 1 sampai tanggal 30 atau 31 (tanggal 28/29 khusus untuk Febuari). Semua tertata rapi di tangan Tere.
                “Hari ini kau ada janji dengan seorang Produser yang katanya ingin memakai kau sebagai model iklan di produk utama mereka. Jam 10 di Restaurant Green Garden.” Jawab Tere sambil menyeruput tehnya yang masih berkebul.
                “Besok?” Tanya Sachy lagi, sepertinya dia ingin mencari waktu yang kosong untuknya.
                “Tidak ada, kenapa?”
                “Besoknya lagi?.” Sachy tidak menjawab pertanyaan Manajernya, entah mengapa pagi ini Sachy bersikap aneh, bahkan dia belum mengeluarkan senyumnya sedikitpun.
                “Ada pertemuan di Hotel Rizt, setelah itu ada jadwal talk show dan kau jadi bintang tamu, malamnya kita ada janji di sebuah Caffe.” Tere belum sempat bertanya lagi karena tidak langsung dia dipaksa untuk memfokuskan perhatiannya pada IPad yang ada di pegangan tangannya.
“Dalam minggu ini..tidak! maksudku dalam sebulan ini kapan aku punya waktu kosong?.”Tere tidak tahan, kini Tere melepaskan pegangan Ipadnya dan menaruhnya di meja, dia lalu mengalihkan perhatiannya ke wajah Sachy, dan bertanya dengan penasaran,
“Sebenarnya apa yang akan kau lakukan? Baru kali ini kau peduli tentang schedulemu dan baru hari ini kau bertanya kapan punya waktu kosong.Pertama kali ini juga aku merasa kau begitu cerewet. Katakan padaku apa yang ada di pikiranmu.” Tere merasa ada yang menganggu hari-hari Sachy akhir-akhir ini, dia melihat Sachy tidak punya semangat dan dia berubah menjadi sedikit pendiam.
Sachy tidak menjawab pertanyaan Tere dia malah berdiri dan berjalan membelakangi Tere. Dia berhenti tidak begitu jauh dari tempat Tere, untuk beberapa saat Sachy hanya diam. Tatapannya menuju pada bunga-bunga yang sedang mekar, namun sebenarnya benaknya tertuju jauh pada seorang manusia yang diapun tidak tahu kenapa dia begitu memikirnya.
Butuh waktu 5 menit, Sachy akhirnya berbalik lagi dia menatap Manajernya yang sudah dianggap seperti Kakaknya sendiri dengan tatapan hangat. Dia tentu saja akan berbagi cerita dengannya.
“Tere..mulai sekarang aku ingin setiap hari kosongku aku gunakan untuk pergi ke sekolah. Tidak peduli dengan waktu istirahatku, aku akan rajin berangkat sekolah. Kalau perlu aku rela menolak beberapa tawaran.” Sachy mengatakan itu dengan penuh ketenangan dia tidak peduli dengan Tere yang bahkan sampai membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya dengan ucapan Sachy barusan.
Sachy membalikkan badannya lagi, membiarkan Tere hanya menatap punggungnya karena tidak ingin Tere melihat wajahnya yang menggambarkan keruwetan yang ada di benaknya, dengan nada dan intonasi yang tetap, Sachy melanjutkan lagi ;
“Aku ada urusan disana dan aku ingin menyelesaikannya. Sebagai seseorang yang sudah kuanggap kakakku sendiri, maukah kau membantuku Tere?”.
                                                                                ***
“Namanya Putri Naila. Kelasnya adalah kelas 12 IPS A-I, dia tidak begitu punya banyak teman, dia bisa sekolah di SMA Nusa Bangsa karena beasiswa, ayahnya sudah meninggal dan ibunya bekerja sebagai..” Tere sedikit memanyunkan mulutnya, Sachy meliriknya seolah menyuruhnya untuk membacakan saja tidak perlu berkomentar apa-apa, “ Tukang loundry. Ah ini kau baca saja sendiri, ada nomor telponnya dan alamat rumahnya juga.” Tere sepertinya sangat tidak suka dengan Nala, dia melempar kertas yang berisi biodata dan keterangan-keterangan tentang sosok Nala yang dia dapatkan dari seorang pesuruhnya dan dia juga melakukan itu karena di suruh oleh Sachy.
“Baik, makasih yah.” Sachy pun tidak mempermasalahkannya yang penting dia telah mendapatkan kertas ini, dia menepuk bahu Tere seolah dia sangat berterimakasih sekali kepadanya, butuh waktu lama Tere menyetujui permintaannya tapi dia percaya sejahat-jahatnya Tere tidak mungkin dia tidak mau membantunya.
“Aku berangkat dulu. Dah..dahh..”Kini semangat Sachy telah pulih kembali, dia berjalan dengan riang karena Tere mau membatalkan semua jadwalnya demi dia agar dia tidak kelelahan.
“Apakah ini begitu penting bagimu? Apakah kau harus melakukan semua ini?.” Tiba-tiba Tere berkata dengan keras, sebenarnya dia tidak ikhlas membantu Sachy, semua ini dia lakukan karena TERPAKSA, dia dipaksa menggunakan wajah Sachy yang Tere tidak kuat melihatnya.
Sachypun berbalik dan dia hanya mengangguk dengan tidak ketinggalan senyum dan wajah imutnya yang terlihat sangat polos. Sebenarnya itu hanya kiasan, jika Tere paham bahwa arti yang sesungguhnya adalah tidak ada yang bisa Sachy lakukan selain ini alias ini adalah jalan satu-satunya.        Setelah itu Sachy pun melanjutkan lagi langkah riangnya dan tidak beberapa lama dia sudah hilang dengan mobil sport putihnya.
Tere hanya menghela nafas melihat semua itu.
                                                                                ***
Seperti biasa seisi sekolah geger dan heboh dengan kedatangan Sachy. Sachy hanya membalasnya dengan senyuman dan tangan yang melambai-lambai sambil mengatakan 3 huruf singkat, H-A-I. Di balik sesaknya manusia yang mengkerumuninya, Sachy sempat-sempatnya sibuk menatap sekeliling, dia mencari seorang gadis, siapa lagi jika bukan Nala.
Namun hingga dia sampai di depan pintu kelasnya, sosok gadis itu tidak berhasil dia temukan. Sachy cemberut, nanti jam istirahat dia harus bertemu dengannya. Harus!.
                                                                                ***
“Dasar cewek sok cantik, dengan PDnya mengatakan ‘itu tidak mungkin karena aku begitu membencinya!’ Cuih! Emang elo siapa? Hellooooo...elo bukan seorang putri, artis, atau anak orang kaya, elo cuma anak tukang cuci. Elo gak pantes ngomong gitu sama Kak-Sachy-kami-yang-ganteng, jadi ngaca dong!.” Nadia tak henti-hentinya mengintimidasi Nala, seisi sekolah marah kepada Nala karena ucapan Nala kemarin kepada pada wartawan-wartawan. Nala hanya diam tapi bukan berarti dia tidak marah, saking marahnya dia sampai tidak bisa berkata apa-apa apalagi membalasnya.
“Emang kenapa kalau jadi anak tukang cuci?.” Seisi kelas sontak terkejut dengan suara yang barusan muncul. Mereka menoleh dan mulut mereka langsung membuka lebar. “Apa bedanya dia dengan aku, kita sama-sama makan nasi jadi dia pantas saja mengatakan hal seperti itu.” Lanjut Sachy. Semua mata langsung membesar, mereka tidak menyangka Sachy akan datang apalagi Nadia. Tiba-tiba saja Nadia merasa keringat dingin keluar dari tubuhnya, dia gemetaran saat Sachy mendekat ke arahnya.
“Sebagai seorang cewek, menurutku kamu gak pantas berbicara seperti itu. Apa kamu seorang Putri, kamu artis? Seberapa kaya dirimu ? apakah kamu menjadi orang paling kaya di sekolah ini? Dan..aku kasih satu nasehat kepadamu, jika kamu tidak segera mengubah cara berbicaramu, aku yakin gak ada laki-laki yang mau sama kamu.” Sachy mengatakan itu tepat di depan wajah Nadia, tepat di depan semua orang dan itu membuat Nadia benar-benar kalah sekarang. Nadia seolah sudah di lempar jauh bahkan sampai ke Kutub Utara.
“Buat semuanya dengarkan penjelasanku baik-baik.” Sachy berdiri di depan semua teman-temannya, dengan keberanian yang penuh dia mengatakan, “Semua ini salahku. Aku yang memanfaatkan Nala demi kepentingan diriku sendiri. Saat itu tidak ada cara lain yang terlintas di benakku untuk menyelamatkan diri. Aku yang menarik Nala dan mengatakan hal yang bohong kepada kalian semua. Jadi sekarang secara resmi aku meminta maaf kepada teman-teman semua terutama kepada Nala.” Saat mengatakan hal itu Sachy sengaja mengalihkan matanya ke arah Nala, tapi Nala hanya membuang muka.
“Jadi aku mohon kepada kalian semua, jangan pernah mengatakan hal-hal kasar lagi kepada Nala, apalagi sampai mengintimidasinya. Buat kalian yang mau menuruti permintaanku, aku ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.”Ucapan itu dikatakan Sachy dengan sepenuh hati, barisan kalimat itu telah dipersiapkannya. Tapi rencananya dia ingin mengatakan hal itu di tengah lapangan jika perlu, tapi saat dia ingin mencari Nala di kelasnya dia tidak sengaja mendengar semua ucapan Nadia yang sangat kasar kepada Nala, seketika itu dia langsung marah, dan kemarahannya sampai ke ubun-ubunya hingga akhirnya dia tidak tahan dan dengan reflek dia melakukan ini semua.
                                                                                ***
“Jangan harap kamu mendapatkan ucapan terimakasih dariku.” Nala menatap dengan dingin kepada Sachy yang padahal sudah sabar menunggunya selama satu jam dari bel pulang sekolah berkumandang.
Sachy menelan ludahnya, dia tahu ini yang akan terjadi. Gadis itu masih tidak mau memaafkannya.
Sachy mendekat ke arah Nala, membuat Nala reflek mundur beberapa langkah. Nala mendelikkan matanya, “Heii..kamu..”Nala tidak bisa berkata dengan baik karena Sachy yang terus mendekat kearahnya sampai dia membentur tembok. Sekilas Nala meringis kesakitan.
Kini mata mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Sachy pun meletakkan telepak tangannya di tembok samping wajah Nala, membuat Nala reflek menjadi salah tingkah dan gugup. Untung sekolah sudah sepi, jadi tidak ada yang melihat mereka berdua.
“Sebenarnya apa sih salah aku? Kenapa kamu begitu membenciku? Apa utang cimol kemarin menjadi dendam yang sangat besar bagimu, atau aku pernah berkata kasar padamu, atau aku pernah melukai atau menyakitimu tanpa aku sadari, atau...”Sachy ragu sejenak, dia menatap lembut ke dalam mata Nala, “Apa aku pernah menolakmu?.”
Nala membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dia mendorong kuat dada Sachy dan mendorongnya jauh-jauh dari tubuhnya.
“Heii.. apa pedulimu dengan kebencianku? Apa kebencianku itu berdampak buat hidupmu, apa kebencianku membuat ketenaranmu sedikit berkurang, atau kau kehilangan beberapa uangmu?!. Hidupku di sekolah sudah cukup menderita, jadi aku harap kau tidak tega menambahkan penderitaan lagi kepadaku, menjauh dariku dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!!.”Teriak Nala yang tidak bisa menahan emosinya. Nampaknya Nala melampiaskan semua kemarahannya yang sudah dari tadi dia pendam kepada Sachy.
Sebelum pergi meninggalkan Sachy, Nala memberikan cendera mata kepada Sachy. Dia menginjak kaki Sachy dengan keras, dan dia tidak peduli Sachy yang berteriak kesakitan sambil memegangi sepatunya yang tadi diinjak Nala.
“Kau menolakku?? Hah..Kepercayaan dirimu rupanya telah diambang batas, Sachy Saldheves!!”Setelah mengatakan itu Nala berlalu dan dia tidak sekali-kali menoleh ke arah Sachy.
                                                                                ***
Apa Sachy dengan mudah menyerah begitu saja?. Tentu saja tidak. Sachy adalah tipe orang yang tidak mudah putus asa.
Semakin Nala membencinya dan terus menolak memaafkan kesalahannya semakin besarlah semangat Sachy. Apalagi kini yang menjadi misi utamanya adalah mengetahui dimana letak kesalahannya. Dia sangat penasaran, dan semakin Nala membencinya semakin besarlah rasa penasarannya.
Sachy bahkan rela menunggu setengah hari di depan rumah Nala, untungnya setengah hari karena Ibunya yang baru pulang kerja tidak tega membiarkannya berada di luar rumah dan Ibunya menyuruhnya masuk. Itu keberuntungan yang besar baginya apalagi Nala rupanya sangat takut kepada Ibunya.
“Nala!! Apa Ibu pernah mengajarkan kamu seperti ini! Ini adalah tamu Nala, harusnya kamu melayaninya dengan baik!.”
“Dia bukan tamuku Ibu. Aku tidak kenal dengannya!.”Nala berusaha mencari alasan agar dia tidak bertemu dengan Sachy. Tapi yang terjadi Ibunya justru semakin marah, dan dengan hitungan detik Ibunya melayangkan sebuah pukulan tepat di pantat Nala. Dan Nala berjingkat-jingkat kesakitan. Kejadian itu di lihat Sachy, dan membuat Sachy menahan mati-matian tawanya yang akan keluar.
“Kuping kamu terbuat dari apa sih? Dari semen atau baja? Kenapa susah sekali di bilangin, aku gak akan maafin kamu. Sampai dunia kebalik juga gak akan.” Kata Nala dengan wajah super jutek dan itu sangat tidak enak sekali di pandang.
“Huzz..kamu gak boleh berbicara seperti itu. Ok..ok, aku gak akan minta maaf lagi tapi tolong aku minta satu hal,” Sachy menarik tangan Nala reflek, sontak Nala langsung menarik kembali tangannya, tapi Sachy tidak peduli, dia bahkan mau memeluk kaki Nala demi memohon, “Katakan padaku apa kesalahanku.”
Nala tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada manusia keras kepala seperti ini. “Tidak akan.” Jawab Nala.
Sachy mengeluarkan jurus andalannya, jurus yang sama dia gunakan kepada Tere : wajah bayinya yang sedang mewek.
Sebenarnya cukup berhasil, karena Nala sedikit terperanjat dan dia membuka mulutnya karena terpesona dengan wajah Sachy. Manusia mana yang tidak terperanjat dengan wajah imut Sachy yang sangat menggemaskan seperti bayi mewek minta susu. Tidak kuat lagi, Nala memutuskan untuk pergi meninggalkan Sachy. Namun Sachy segera menariknya dan pada saat itulah peristiwa mengerikan itu terjadi.
Sachy tidak sengaja menyenggol sebuah bingkai foto dan akhirnya..
Prang!!. Bingkai foto itu jatuh dan kacanya pecah berantakan. Baik antara Sachy dan Nala, dua-duanya sama-sama terkejut dan sejenak mereka menjadi patung mendadak.
Sachy yang sadar duluan langsung berusaha memungutnya, namun Nala segera bereaksi.
“Jangan sentuh! Kamu gak boleh sentuh barang itusedikitpun!.”Meskipun Nala mengatakan itu dengan nada yang tidak keras, tapi Sachy merasa ini lebih menakutkan dibanding dia jatuh dari atap apartemennya.
Nala jongkok untuk mengambil foto yang ada di bingkai itu. Dia sama sekali tidak memungut pecahan kaca, yang dia lakukan hanya memandangi foto itu. Foto dirinya dengan seorang gadis yang juga sebaya dengannya dan mereka sedang tersenyum bersama.
Sachy merasa sangat bersalah, “Akan aku ganti bingkainya. Akan aku cari yang sama persis jadi kau tidak perlu kawatir, aku janji aku akan memperbaikinya seperti semula.”
Nala hanya diam, lalu tiba-tiba air matanya jatuh. Sachy bersumpah, dia sangat terkejut melihat Nala yang tiba-tiba menangis, dia merasa dunia ini tiba-tiba runtuh menimpanya.
“Nala..ke..napa..ka..mu..”
“Kamu sudah menyakitinya dua kali.”Nala tidak kuat menahan tangisnya, dia menangis dengan tersedu-sedu. Sachy semakin panik, dia memberanikan diri untuk ikut jongkok di depan Nala dan memegang pundaknya.
“Apa ini keinginanmu? Baik, akan aku beritahu kesalahanmu..”Nala dengan cepat menghentikan tangisannya dan kini dia menatap Sachy dengan tatapan seribu kali lebih tajam dari pada tatapan tajamnya sebelumnya.
Sachy sangat terkejut melihat perubahan Nala apalagi tatapannya, dia menelan ludahnya. Tiba-tiba saja dia tidak siap untuk mendengarnya.

                                                                                ***

Nala Series : aku benar-benar membenci Sachy ! Kenapa dia harus datang dan menganggu hidupku? membuat luka yang telah kering itu kembali terkelupas dan mengeluarkan darah. Apa dia pikir aku membencinya karena masalah utang cimol? Tentu saja bukan ! Masalah ini tidak sesederhana itu Sachy Saldheves !!!!

Baca Juga Postingan Terbaru

 

Catatan Sakura Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates